Posts

Membeli Buku dan Tidak Membacanya

Image
Tiap kali ngantor, kala makan siang, saya selalu mampir ke toko buku. Kutu buku? Snob? Otaku ? Tidak juga. Kebetulan saja kantor saya terletak dalam gedung yang sama dengan beberapa toko buku besar. Untuk pergi ke kantin, saya harus melewati toko buku tersebut. Sekilas melihat buku-buku yang terpampang di etalase, saya mendapati nama-nama pengarang atau judul-judul bukunya nan terasa familiar. Familiar sebab sering diperbincangkan, baik dari mulut ke mulut maupun lewat media-media seperti majalah, koran, ataupun social media seperti blog, facebook atau twitter. Diterjang dengan terpaan semacam itu, sering saya tidak berdaya, lalu memutuskan untuk membeli buku yang terpampang di etalase. Suka membaca? Tidak juga. Suka membeli, lebih tepatnya. Suka mengoleksi, lebih tepatnya lagi. Ada semacam perasaan senang ketika membeli buku, sekalipun perasaan itu berangsur hilang ketika sudah sampai rumah. Saya percaya, membeli buku dan tidak membacanya adalah tindakan yang wajar. Hasr...

Menyiasati Telepon Umum yang Tak Berguna

Image
Di beberapa ruas jalan di Jakarta, kadang-kadang saya masih menemukan telepon umum. Sering juga saya melihat ada saja orang yang masih menggunakannya. Berapa biayanya sekarang, masihkah seratus rupiah, atau limaratus rupiah? Berapa lama durasinya, lima menit, tiga menit?

Media Hipster dan Biro Jodoh

Image
Anda kenal Felix Miller? Anda kenal Richard Jones? Jika belum kenal, maka, perkenalkan, beliau-beliau ini adalah salah dua dari pencipta situs web paling keren sepanjang sejarah: Last.fm. Last.fm, situs web pertemanan seperti facebook atau twitter, dengan konsep utamanya adalah: ajang berbagi playlist musik. Felix Miller berhak untuk tidak setuju dengan terminologi asal-asalan yang saya bikin itu. Tapi kenyataannya, saya memakainya untuk itu, untuk berbagi playlist musik. Kegiatan berbagi playlist ini akan berujung pada penemuan artis-artis baru yang tidak terkenal tapi lagunya bagus. Terdengar seperti kegiatan seorang hipster? Memang. Last.fm adalah salah satu alat termudah untuk menjadi hipster. Sering terjadi, ketika saya menyetel lagu-lagu dari perangkat komputer, teman-teman saya bertanya: "Lagu-lagu lo aneh-aneh.... tapi enak-enak sih" Hipster sekali, bukan? Teman-teman saya tidak tahu kalau saya punya akun last.fm Last.fm adalah situs web yang m...

Antara Penembakan Massal dan Bola Gelinding

Image
“Harga sebutir peluru seharusnya $5000! Sehingga seorang penodong akan bilang begini: aku akan menembak kepalamu, jika aku mampu beli peluru!” -  Chris Rock, dalam salah satu aksi stand-up commedy. Berita ramai menyiarkan ihwal pemutaran perdana film Batman The Dark Knight Rises di Denver, Colorado, Amerika Serikat, yang diwarnai aksi penembakan massal oleh James Holmes. 14 orang tewas, 38 lainnya luka-luka karena serangan tersebut. Amerika Serikat mempunyai sejarah kelam soal ini. Tercatat ada beberapa kejadian tragis serupa. Dan yang lebih menyedihkan lagi, beberapa kejadian tragis itu terjadi di sekolahan! Banyak yang berpendapat bahwa kejadian-kejadian ini erat kaitannya dengan hukum kepemilikan senjata api. Pendapat-pendapat itu terus berkembang hingga menyentuh ke ranah kultur semisal tentang pengaruh buruk kekerasan dalam videogames, juga tentang konten kekerasan dalam film-film yang beredar. Ngomong-ngomong, film Batman The Dark Knight Rises sendiri merupakan f...

Percayalah, Bahasa Alay Akan Musnah

Image
Tadinya saya kira soal bahasa alay merupakan persoalan kecil saja, buat lucu-lucuan belaka. Tapi lama-lama makin banyak teman-teman yang nyinyir, bahkan sampai sok gawat dengan berpura-pura khawatir akan kelanggengan bahasa Indonesia apabila bahasa alay tetap lestari. Bahasa alay yang saya maksud, adalah bahasa yang (masih saja) marak, terutama dalam wujud teks, misalnya menulis alay menjadi 4l4y, atau menulis "semangat" menjadi "cemunguudh". Biasanya peletakan huruf kapital dalam penulisan alay itu juga sembarangan. Alay dari masa ke masa Sebenarnya saya tidak terlalu suka Raditya Dika, tapi dalam satu aksi stand up comedy-nya, ia pernah mengucap begini: "Alay merupakan fase yang wajar, proses menuju kedewasaan. semua orang akan mengalaminya. Kita lahir, jadi remaja, jadi alay, lalu dewasa" Saya sepakat. Tiap jaman memiliki 'cacatnya' masing-masing. Wajar bila apa yang kita kira keren sekarang, beberapa tahun kemudian akan ter...

Seni Kondangan

Image
"Tahukah kenapa Amerika semakin merosot sebagai negara besar? Karena rakyatnya tidak tahu lagi menjawab kenapa minum kopi pada waktu jam ngopi..." [ Umar Kayam dalam "Secangkir kopi dan sepotong Donat" ] Satu per satu kawan-kawan menemukan pasangan hidup, lalu mengikatnya dalam ikatan sakral berjudul pernikahan. Upacara digelar, dan sebagai sahabat dekat, kondangan dipandang sebagai wajib hukumnya. Tapi, siapa pula yang mengajari ihwal kondangan ini. Kenapa harus pakai batik, misalnya. Atau kenapa harus bawa amplop. Haruskah amplop diberi nama, dan lain sebagainya. Sulit untuk menjawabnya. Tiap masyarakat sudah punya aturan-aturan tak tertulis yang demikian. Ada yang menarik dalam aktifitas yang bertajuk kondangan ini. Ada hal-hal yang belakangan ini umum terlihat dalam sebuah pesta pernikahan. Sebut saja hal ini sebagai seni kondangan. PAKAIAN Para tamu undangan akan menghadiri sebuah upacara pernikahan dengan pakaian yang layak sesuai standar masin...

Mantra Pengikat

Image
Beberapa tahun yang lalu saya sempat pulang kampung ke Bali. Tidak tepat disebut pulang kampung sebenarnya. Bali adalah kampung kedua, saya cukup lama hidup disana. Di Bali, saya menginap di rumah seorang sobat jaman SMA, sebut saja namanya Anom. Rumah Anom, rumah khas Bali dengan pekarangan luas, terdiri atas beberapa bangunan yang terpisah-pisah. Kamar tidur, Dapur, ruang keluarga untuk reriungan, Bale bengong untuk berbengong ria sambil menatap akuarium besar, semua itu berdiri terpisah-pisah. Demi menghormati kehadiran kawan lama, Anom mengatur suatu reuni kecil. Tapi apa daya, terbentur kesibukan, dari sekian puluh undangan reuni yang disebar, hanya seorang saja yang datang, yakni Nyoman. Singkat cerita setelah menghabiskan sepanjang siang mengelilingi Bali, Saya, Anom dan Nyoman kelelahan. Malam telah menjelang. Di kamarnya yang besar, Anom dan Nyoman sudah lelap tidur dengan damai. Sementara saya, terbiasa tidur subuh, belum juga mengantuk. Bosan, akhirnya saya menyalakan ...