Pada jamannya, fiksi pernah mendapat tempat yang sangat strategis untuk melancarkan informasi, lebih ampuh daripada berita. Kita ingat salah satu sastrawan Indonesia, Seno Gumira Ajidarma, yang pernah mencetuskan slogan, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.

Kenapa Seno sampai mencetuskan slogan seperti itu? Kita tahu lah, pada jamannya, rezim orde baru pernah membungkam pers dengan ketat. Berita-berita yang tersaji begitu rapi disaring oleh pemerintah. Begitulah, Seno Gumira dengan cerdik memanfaatkan Sastra untuk menyampaikan berita. Cerpen, ketika dimuat di koran, ia menjadi celah dimana informasi bisa di selundupkan, sementara berita-berita tak luput dari sensor ketat.

Begitulah, Seno melalui cerpen-cerpennya, menceritakan kekejaman yang terjadi di Timor Timur, yang pada waktu itu tak mungkin dimuat sebagai berita.

Masalahnya terjadi ketika rezim itu jatuh. Media Massa tak lagi dibungkam. Berita-berita yang tersaji sungguh penuh melodrama, penuh konflik yang pelik, bagaikan sebuah kisah fiksi. Lalu bagaimana jadinya? Fiksi telah di kalahkan oleh berita-berita tersebut. Sekarang, Fiksi harus mencari jalan lain.


Tentang Fiksi, masih lazim kita dengar bahwa fiksi adalah imajinasi dan khayalan. Benar, fiksi itu berada dalam dunia rekaan pengarang. Tapi, fiksi yang baik, bukan semata-mata khayalan. Bagaimanapun juga, sebuah cerita bisa lahir ke dunia, tak bisa sepenuhnya lepas dari desakan kondisi sosio politik. Fiksi adalah ekspresi serius, sikap pengarang dalam menanggapi persoalan-persoalan hidup. Makanya, kadang ketika membaca fiksi, kita bisa memilah-milah, atau menilai, si A, adalah pengarang yang dangkal, si B adalah pengarang yang hebat, dan sebagainya. Jadi, kalau anda masih yakin bahwa fiksi adalah semata-mata khayalan, mungkin anda perlu membaca fiksi-fiksi yang baik, yang kepatutannya sudah diakui dunia.

Penulis-penulis cerpen yang baik, tentu tidak menganggap enteng tulisan-tulisan yang ia publikasikan. Setelah ia mendapat ilham, ia membiarkan ilhamnya mengendap, lalu ia melakukan serangkaian riset, mencatat hal-hal penting terkait cerita yang akan ia buat. Hal-hal demikian, setidaknya akan membantu dalam melahirkan karya fiksi yang baik. Tapi itu pun masih perlu di dukung oleh teknik bercerita yang baik. Teknik bercerita yang baik, tentu bisa dipelajari, melalui membaca karya-karya yang sudah ada sebelumnya, baik dalam maupun luar negeri.

Hal-hal tersebut tentu cukup membantu untuk menghasilkan karya yang baik. Tapi rupanya, baik saja belum cukup. Karya sastra akan selalu berkembang seiring tuntutan jaman. Mengulang kalimat yang tadi sudah disebut; fiksi yang baik itu masih harus bersaing dengan media lain, di antaranya dengan berita yang penuh melodrama dan sarat konflik. Ini perlu jadi catatan untuk para penulis fiksi. Saingan para penulis fiksi sungguh berat..

————————————–

Sumber Bacaan:

“Mengapa Realisme tak Cukup Lagi?” - (prolog Ayu Utami dalam Kumpulan Cerpen pilihan Kompas 2007)

“Catatan kecil tentang Cerpen” - Jakob Sumardjo