Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2015

Tiada Salah Musik Melayu Mendayu-dayu

Musik itu, kata Albus Dumbledore seraya menyeka air matanya, jauh lebih magis dari segala sihir yang dipelajari di Hogwarts. Sepertinya Bapak Kepala Sekolah paling tenar se seantero Inggris Raya itu benar belaka. Di Indonesia, musik sering kali memiliki kaitan erat dengan semesta, baik alam sekitar maupun alam gaib. Umar Kayam dalam kumpulan kolom di koran Kedaulatan Rakyat, pernah pula menyampaikan hal serupa. Betapa penduduk Yogyakarta setia pergi ke alun-alun demi mendengarkan gamelan Kiai dan Nyai Sekati tiap kali Perayaan Sekaten tiba. Menurut Mr. Rigen—Tokoh lucu dan ngeyel di kumpulan kolom Umar Kayam-- Gamelan Kiai dan Nyai Sekati adalah gamelan yang bukan sakbaene gamelan. Bukan gamelan sembarangan. Gamelan yang sanggup membuat pendengarnya pada merinding semua. “Ning merindingnya itu merinding yang baik", kata Mr. Rigen.

Ritmisnya musik-musik tradisional Indonesia memang bisa bikin merinding. Dalam peristiwa tertentu, ia malah bisa bikin trance. Coba tengok kuda lumpin…

Berharap Terlalu Tinggi Pada Tongkat Emas

Saya tidak keberatan sama sekali sewaktu Pendekar Tongkat Emas menampilkan aksi-aksi berkelahi yang katanya lebih condong ke kungfu dibanding silat. Silat. Bukankah kata tersebut sebenarnya luas sekali artinya. Ia tidak mendefinisikan sebuah seni beladiri asli Indonesia, tapi ia juga mencakup semua seni berkelahi?

Yang paling bikin semangat kendor sewaktu nonton film Pendekar Tongkat Emas adalah ini: Ekspetasi yang terlalu tinggi.


Sederet nama besar yang menggawangi film, membumbungkan harapan tinggi, bahwa kita akan dihadapkan dengan film yang super keren, yang cemerlang dilihat dari berbagai sudut.

Sayangnya, harapan itu tidak berhasil diantarkan dengan maksimal.

Saya paling merasakan kekenduran ini di segi cerita. Soalnya saya penonton film yang hanya peduli pada empat hal: gambar, warna, cerita, serta pemainnya. Kalau empat itu oke, maka, sikat!

Biasanya kalau menonton film, untuk bisa menikmatinya, saya perlu satu atau dua tokoh untuk pegangan, untuk didukung, untuk dirasain pen…