Ketika masih kecil, saya selalu merasa dunia bagaikan sebuah film. Saya dan orang-orang di sekitar sebagai tokoh utama. Dunia saya sempit sekali waktu itu.

Beberapa tahun silam, atas dorongan seorang kakak agar saya sedikit menyisihkan waktu untuk membaca, saya jatuh cinta pada sebuah buku. Sampul buku tersebut menampilkan sebuah judul, Bumi Manusia. Pramoedya Ananta Toer menulis buku itu dengan sangat indah. Sosok Minke, juga Nyai Ontosoroh, tokoh-tokoh dalam buku ini, bercokol lama dalam benak saya. Minke dan Nyai Ontosoroh adalah perlambang tentang perjuangan, kemanusiaan, Nasionalisme dan hasrat belajar yang menggebu-gebu.

Buku ini cukup mempengaruhi saya. Banyak tuturan kata-katanya yang menginspirasi. Saya bukan satu-satunya orang yang merasakan demikian. Tengoklah betapa banyaknya buku ini dicetak ulang dalam berbagai bahasa di dunia.

Selepas membaca Bumi Manusia, saya mulai menggemari karya-karya sastra penulis Indonesia. Saya mulai mengenal cerpen-cerpen Umar Kayam yang legendaris. Cerpen-cerpen Umar Kayam merupakan salah satu favorit saya sepanjang masa. Saya bisa membaca kumpulan cerpen Seribu kunang-kunang di Manhattan, berulang kali, dan tidak kunjung bosan.

Selain Pram dan Umar Kayam, salah satu penulis lain yang pertama-tama saya baca karyanya adalah Remmy Sylado. Ketiga sastrawan ini berhasil meyakinkan saya, Indonesia memiliki pencerita yang hebat. Saya sampai punya pendapat, jika ada orang asing yang ingin tahu tentang Indonesia, persilahkan saja mereka untuk membaca karya ketiga penulis ini.

Saya terkesan pada cara ketiga sastrawan ini mengungkap kisah. Perasaan haru menyeruak kala membaca tragedi-tragedi yang mereka sajikan. Saya terpukau pada detail waktu dan tempat yang mereka tampilkan, begitu rinci. Saya mengangguk setuju pada gagasan yang mereka ajukan, gagasan tentang keadilan, kemanusiaan dan cinta.

Tiga nama ini lah yang akhirnya mendorong hati kecil saya untuk gemar membaca. Lalu saya menemukan Ronggeng Dukuh Paruk yang sensual, tragis, dan bahasanya cenderung kasar, karya Ahmad Tohari. Soal teknik mendeskripsikan latar cerita, Beliau ini adalah pengarang yang paling saya kagumi. Lewat karyanya itu, Ahmad Tohari terlihat seperti seorang pelukis realis yang sedang melukis dengan kuas. Ia melukis sebuah desa gersang dan miskin.

Tentu saya tidak berhenti di Ahmad Tohari. Sejumlah nama-nama terus bermunculan. Ribuan pengarang hidup di seluruh dunia, dengan kisah masing-masing. Mereka begitu menarik untuk dibaca. Mereka, para penulis itu mempunyai gagasan-gagasan, yang meskipun bukan gagasan baru, tapi disampaikan dengan cara-cara yang khas.

Buku-buku yang hebat, memberi nilai lebih pada kejadian sehari-hari yang mungkin terlihat biasa. Sebuah Apel jatuh dari pohon, hanya akan menjadi buah busuk digerogoti belatung bila Newton tidak menuliskannya menjadi Teori Gravitasi.

Para pengarang, melalui buku-bukunya, mengajak saya sebagai pembaca untuk memaknai pengalaman, mengamati alam dan kehidupan. Ide, gagasan, buah pikir, ditambah pengalaman para penulis itu, mustahil saya peroleh dari kejadian sehari-hari yang saya alami sendiri. Dunia ini sedemikian luasnya.

Pepatah bilang buku adalah jendela dunia, dan membaca merupakan kunci untuk membukanya. Sungguh ini bukan ungkapan klise.

******
Tulisan ini memenangkan lomba Kompas Gramedia Fair Semarang, dengan hadiah voucher belanja buku di Gramedia senilai Rp. 1.000.000,-
Terima kasih Gramedia! :D