Buah itu rasanya kecut, membuat lidah serasa dicubit, sensasinya mirip seperti kalau kamu menggigit jambu monyet. Bentuknya bulat, seperti tomat kecil, warnanya jingga.

“Cobalah, ini enak kalau dibuat rujak” kata seorang teman pada seorang teman yang lain, anak baru dari jawa.

Digigitnya buah itu, lalu teman baru dari jawa itu memuntahkannya seketika.

“Nggak enak! Sepet!!” katanya. Kami semua tertawa, selalu menyenangkan 'menyiksa' kawan baru dengan buah dari pohon perdu ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya kalau kawan baru ini ditawari makan buah Kecacil, yang rasanya kecut luar biasa.

Bekul, demikian orang Bali menyebut nama buah itu. Pohonnya yang pendek penuh duri, dulu mudah ditemui di sepanjang perjalanan menuju pantai kuta. Tepatnya di perkampungan di sebelah barat jalan legian. Belakangan saya temui, nama latin buah ini ‘Ziziphus mauritiana‘.


“Sebaiknya jangan banyak banyak makan buah bekul, bisa sempengot!” begitu nasehat kami dulu. Teman baru dari Jawa diam mendengarkan, mengangguk tapi tak paham. Sempengot adalah kondisi mulut ketarik kesamping alias perot. Dalam dunia medis disebut dengan facial paralysis.
Saya lupa siapa yang mengajari, tapi kami dulu percaya satu mitos. Mencuri buah di kebun orang, dapat mengakibatkan sempengot, selain akibat kebanyakan makan bekul.

------------------------------------------------

Terlintas ingatan pada beberapa tahun silam, ketika kami lulus SMP.

Masa disaat seolah anak SMP pasti lulus, tidak terlalu banyak beban pikiran selepas ujian, masuk ke SMA Negri rasanya juga tidak terlalu sulit. Bagi pemilik NEM pas pasan seperti saya, setidaknya masih diterima di Sekolahan negri, meski bukan Negri Favorit.

Satu hari dalam waktu yang penuh keriangan itu, salah seorang kawan masuk kelas dengan posisi mulut yang aneh sekali, letaknya bergeser kesamping, seperti ketarik mendekati kuping. Dibesarkan dalam pelukan mitos bekul dan sempengot, seumur umur, baru kali itu melihat dengan kepala sendiri.

Kami desak dia untuk mengaku, mencuri buah di kebun mana sampai ia bisa mendapat mala itu. Tapi ia tidak mengaku. Tidur di ubin! begitu ia membela diri. gantian kami yang tidak percaya. Begitu kuatnya usaha si sempengot itu membela diri, matanya merah menahan tangis. Malu ia dituduh sebagai pencuri.

Mencuri, itu perbuatan yang memalukan. Tapi sempengot bagi kami adalah bukti. Sekuat apapun ia berusaha membela diri, kami tetap tak percaya.

“Aku semalam tidur di ubin!” begitu katanya berulang ulang. Dijawab dengan, “Nggak mungkin tidur di ubin bisa bikin mulut sempengot begitu, kamu pasti mencuri buah di kebun orang!!”

——————————————————-

Selepas SMP, kami tersebar sebar ke berbagai penjuru Denpasar dan Badung, menuju ke SMA pilihan masing masing. Akan halnya teman si penderita mala sempengot itu, saya tak tahu bagaimana kabarnya. Seingat saya, waktu perpisahan pun ia masih menderita facial paralysis tersebut.

Sejak acara perpisahan itu pula, saya tak pernah berjumpa lagi dengan teman saya yang sempengot itu.