Dulu, Kakek saya sering ngelindur. Seru! Ngelindurnya pakai bahasa Belanda, atau bahasa Jepang. Dia suka nyerocos, suaranya mirip orang kumur-kumur, berat dan dalam.

Sayangnya anak-anak dan cucu-cucunya tidak ada yang tahu Kakek sebenarnya mimpi apa sampai ngelindur begitu. Anak-anak dan Cucu-cucu Kakek tidak ada yang bisa berbahasa Belanda.




Kakek saya itu produk didikan sekolahan Belanda. Saya lupa beliau lulusan MULO atau HBS, atau malah lebih rendah lagi. Kalau dibandingkan dengan jaman sekarang, MULO dan HBS itu setara dengan SMP alias sekolah menengah pertama. Anak Cucu Kakek hampir semuanya anak Kuliahan. Ada beberapa yang tamatan SMA. Tapi tidak ada seorang pun yang bisa nyerocos dalam bahasa asing. Ada sih satu dua orang, tapi bahasa Inggris, bukan Belanda.

Saya pernah dengar cerita dari Ibu tentang betapa galaknya guru-guru Kakek dulu. Mungkin Kakek pernah menceritakannya pada Ibu. Saya menduga, semua guru-gurunya orang Belanda asli. Kalau mengajar pakai bahasa Belanda. Guru-guru Kakek itu menjunjung tinggi disiplin. Hasil tempaan didikan itu masih terlihat pada sosok Kakek. Beliau terlihat galak, matanya tajam, kalau berbicara tegas. Sebenarnya, galak bukan istilah yang tepat. Berwibawa adalah kata yang lebih tepat.

Kakek adalah laki-laki yang berwibawa. Ia disegani oleh orang-orang disekitarnya. Betapapun ia menyayangi cucu-cucunya, tapi jangan tanya kalau ada cucunya yang malas belajar. Bisa diomeli habis-habisan. Itu tempaan didikan jaman Belanda yang coba ditularkan pada kami.

Saya pernah mendapati koleksi buku milik Kakek tersimpan di lemari. Bukunya tebal-tebal. Saya coba ambil satu, sudah agak berdebu. Saya buka, coba membacanya, dan gagal. Saya tidak mengerti bahasa yang tertulis di buku itu. Bahasa Belanda.

Sebenarnya, itu memalukan. Kakek saya tidak sempat mengecap bangku kuliah. Tapi ia menguasai bahasa Belanda, lisan dan tulisan. Ia juga sanggup bicara dalam bahasa Jepang. Saya pikir, ada degradasi disini. Paling tidak, dalam soal berbahasa. Jangankan bahasa Belanda, bahasa Inggris pun saya gagap! Apalagi bahasa Jepang yang tulisannya mirip ukiran.

Ada kesan kalau orang-orang didikan jaman Belanda itu jauh lebih cerdas dibandingkan didikan jaman sekarang, dan jauh lebih berkarakter. Tapi ini kesan yang saya tangkap dari membandingkan Kakek dan diri saya sendiri. Jelas ini tidak berlaku umum.

***

Suatu hari, seorang kawan menginap di tempat kos saya. Kira-kira menjelang subuh, badan saya diguncang-guncangkan oleh teman saya itu.

"Kamu ngelindur!" Kata teman saya itu.

"Masa?" sanggah saya.

"Iya, kamu manggil-manggil nama pacarmu!"

"Pakai bahasa belanda nggak ngelindurnya?"

Teman saya tidak menjawab. Ia cuma bengong, lalu menguap, siap melanjutkan tidur lagi. Saya juga sama, siap tidur lagi. Sambil mengucap doa dalam hati, semoga Kakek tenang di alam sana.