Sisifus merupakan salah satu sosok paling sedih yang pernah diciptakan oleh mitologi. Dikisahkan bahwa Sisifus di Tartaross (semacam neraka dalam Mitologi Yunani), dia dihukum oleh para dewa untuk mengangkat batu besar ke atas bukit. Setelah sampai di atas, batu tersebut akan menggelinding kembali ke bawah dan Sisifus harus mengangkatnya lagi ke atas bukit dan batu tersebut menggelinding lagi, diangkat lagi, demikian seterusnya. Pendek kata, Sisifus dikutuk untuk melakukan hal yang sia-sia sampai selama-lamanya. Sial betul.

Kisah Sisifus ini hanyalah mitos belaka, tetapi sebuah kisah biasanya tidak lahir begitu saja. Biasanya, ada desakan sosial dan politis yang menyebabkan sebuah kisah lahir di dunia. Bila dikait-kaitkan dengan sembarangan, kisah Sisifus ini bisa ditemui dimana saja, pada diri siapapun.

Ambil saja sebuah contoh, seorang karyawan sebuah perusahaan. Sebagai karyawan, dia dituntut untuk bekerja lima hari seminggu, demi gaji yang akan ia peroleh setiap akhir bulan. Ketika gaji sudah diterima, ia habiskan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhannya. Lalu ia harus bekerja lagi, lalu terima gaji, demikian untuk seterusnya. Membosankan? Tentu saja! Saya cukup yakin, bahwa menjadi karyawan dengan rutinitas yang itu-itu saja adalah sebuah pilihan yang menjemukan. Setidaknya, bisa dilihat dari laku kerasnya buku-buku tentang pengembangan karir.

Pemberontakan Penarik Becak New York

Ada juga yang coba memberontak dari kebosanan itu dengan asik, seperti yang dilakukan oleh Frankie Legarreta, seorang pengemudi becak di pusat kota New York. Selama lebih dari enam tahun, Frankie telah menggeluti pekerjaan membawa penumpang di sekitar Central Park, kota New York dengan kendaraan beroda tiga itu, yang biasa disebut “pedicab”.

“Saya bosan bekerja di kantor dan saya memulai pekerjaan ini (menjadi penarik pedicab)” ujar Frankie.

Mungkin orang-orang akan heran pada pilihan yang dijatuhkan oleh Frankie. Dia meninggalkan pekerjaan kantor dan menjadi penarik “becak”. Dilihat dari segi finansial, pendapatannya jelas berkurang drastis. Tapi rupanya, ada sisi lain yang dikejar oleh Frankie.

“Saya di rumah bersama keluarga, dengan anak-anak, bersenang-senang. Selama kita bisa membayar semua tagihan, dan kita kekurangan dari segi keuangan … maka sesungguhnya kita bisa bahagia. Benar, ini semua terkait dengan rasa bahagia,” papar Frankie.(voaindonesia.com)

Kacamata Absurd

Ada yang mengherankan dari kisah Sisifus, yaitu kenapa dia tidak memberontak saja? Diamkan saja batunya di bawah bukit. Atau biarkan saja batu tersebut menggilasnya, biar patah tulang, hingga ia bebas dari tugasnya yang sia-sia dan menyedihkan itu. Seperti Frankie yang memberontak dari rutinitas kantor, lalu memilih jadi penarik becak.

Tapi, Sisifus dengan patuh dan setia tetap mengangkat batu tersebut ke atas bukit, untuk menggelinding kembali ke kaki bukit, untuk diangkat lagi, dan seterusnya. Mungkin orang-orang bisa melihat sosok Sisifus sebagai sosok yang sial dan tragis. Hidupnya diisi dengan perjuangan yang konstan dan sia-sia. Kesia-siaannya ini yang membuat kisah sisifus tersebut menjadi begitu tragis dan menyedihkan.

Kisah Sisifus tentang perjuangannya mengangkat batu yang sia-sia ini sedemikian absurdnya, maka dari itu, ada baiknya kita meminjam kacamata Albert Camus.

Albert Camus, pencetus Absurdisme, punya pandangan lain tentang Sisifus. Sisifus bisa dikatakan tragis dan menyedihkan bila ia memiliki harapan, jika ia yakin ada hal yang lebih baik dibandingkan dengan mengangkat batu ke puncak bukit. Tetapi, Sisifus dengan setia tetap melakukan rutinitasnya itu. Hukuman untuk mengangkat batu itu diterimanya dengan lapang dada, ia menerima nasibnya itu dengan patuh.

Sisifus adalah gambaran tokoh yang memahami keterbatasan yang ia miliki, juga ia adalah tokoh yang memahami nasibnya. Dengan memahami kedua hal tersebut, ia menjadi sadar akan eksistensi dirinya, siapakah dia, dan apa kemampuannya. Kutukan Sisifus akan terlihat mengerikan baginya bila ia mengharapkan suatu keadaan yang lebih baik.

Tapi Sisifus menerima nasibnya. Sisifus menanggalkan harapannya, ia tidak memimpikan keadaan yang lebih baik, dan dengan begitu, ia tidak merasakan bahwa nasibnya itu buruk. Sebaliknya, ia menemukan kebahagiaan disitu, dalam setiap jengkal langkahnya tatkala ia mengangkat batunya menuju puncak bukit. Karena kebahagiaan itu hanya bisa diraih ketika seseorang mau menerima kehidupan dan nasibnya.

Seperti halnya ucapan Frankie tukang becak New York itu bahwa benar, ini semua terkait dengan rasa bahagia. Dengan demikian, Sisifus bisa pula dilihat sebagai sosok Pahlawan absurd nan bahagia.