Tadinya saya kira soal bahasa alay merupakan persoalan kecil saja, buat lucu-lucuan belaka. Tapi lama-lama makin banyak teman-teman yang nyinyir, bahkan sampai sok gawat dengan berpura-pura khawatir akan kelanggengan bahasa Indonesia apabila bahasa alay tetap lestari.

Bahasa alay yang saya maksud, adalah bahasa yang (masih saja) marak, terutama dalam wujud teks, misalnya menulis alay menjadi 4l4y, atau menulis "semangat" menjadi "cemunguudh". Biasanya peletakan huruf kapital dalam penulisan alay itu juga sembarangan.


Alay dari masa ke masa


Sebenarnya saya tidak terlalu suka Raditya Dika, tapi dalam satu aksi stand up comedy-nya, ia pernah mengucap begini:

"Alay merupakan fase yang wajar, proses menuju kedewasaan. semua orang akan mengalaminya. Kita lahir, jadi remaja, jadi alay, lalu dewasa"

Saya sepakat. Tiap jaman memiliki 'cacatnya' masing-masing. Wajar bila apa yang kita kira keren sekarang, beberapa tahun kemudian akan terlihat culun. Jaman orang masih chatting pakai IRC, pemakaian kata-kata 'asl pls' atau 'asl plz' itu sangat populer. Tapi kalau dipakai hari ini, bukan tidak mungkin hal itu akan membuat pemakainya menjadi kelihatan culun dan kuno.

Jauh sebelum kata alay berikut bahasanya ini populer, Deby Sahertian pernah membuat kamus bahasa Gaul. Kamus tersebut memuat perbehendaraan kata-kata yang gaul dijamannya, yang posisinya sebelas duabelas dengan alay jaman sekarang.

Dan jauh sebelum kamus Deby Sahertian, Lupus juga telah menginspirasi anak-anak muda untuk berbahasa prokem, yang gaul di jamannya.

Jauh sebelum lupus? Mungkin ada juga, tapi saya belum lahir, jadi saya tidak tahu.

Selidik punya selidik, bahasa walikan khas kera ngalam (katanya) sudah ada sejak jaman kemerdekaan. Sedangkan bahasa plesetan Jogja (yakni memutar balikkan urutan dalam aksara jawa), saya tidak tahu kapan lahirnya, tapi seingat saya tahun 1990 bahasa tersebut sudah eksis. Jaman geng-geng anak jalanan seperti Kisruh dan Joksin masih marak, bahasa walikan ini populer di kalangan Gali (preman).

Bahasa Slang Indonesia


Bahasa alay, sebagaimana bahasa gaul atau bahasa prokem, merupakan bahasa informal yang suka atau tidak, merupakan fenomena yang natural. Bahasa slang ini berkembang mengikuti jaman, dengan vocabulary yang terus bertambah. Ketika ada kata-kata yang mulai jarang digunakan, terkikis oleh banyak peristiwa dan konteks-konteks tertentu, dengan sendirinya bahasa itu akan beradaptasi.

Anda tidak akan sanggup menahan perkembangan bahasa slang. Merasa tidak nyaman dengan begitu pesatnya perkembangan bahasa slang? Sudahlah, telan saja. Tunggu waktu saja, nanti pasti berubah lagi kok trennya. Itu sudah ketentuan alam.

Misalnya hari ini ada yang masih suka ngomong: "so what gitu loh!", kita bisa menilai betapa kuno nya orang itu. Nanti bahasa alay yang rumit dalam penulisan itu juga akan mengalami nasib yang sama kok. Jangan khawatir.