Skip to main content

Antara Penembakan Massal dan Bola Gelinding

“Harga sebutir peluru seharusnya $5000! Sehingga seorang penodong akan bilang begini: aku akan menembak kepalamu, jika aku mampu beli peluru!” -  Chris Rock, dalam salah satu aksi stand-up commedy.



Berita ramai menyiarkan ihwal pemutaran perdana film Batman The Dark Knight Rises di Denver, Colorado, Amerika Serikat, yang diwarnai aksi penembakan massal oleh James Holmes. 14 orang tewas, 38 lainnya luka-luka karena serangan tersebut.

Amerika Serikat mempunyai sejarah kelam soal ini. Tercatat ada beberapa kejadian tragis serupa. Dan yang lebih menyedihkan lagi, beberapa kejadian tragis itu terjadi di sekolahan!

Banyak yang berpendapat bahwa kejadian-kejadian ini erat kaitannya dengan hukum kepemilikan senjata api. Pendapat-pendapat itu terus berkembang hingga menyentuh ke ranah kultur semisal tentang pengaruh buruk kekerasan dalam videogames, juga tentang konten kekerasan dalam film-film yang beredar. Ngomong-ngomong, film Batman The Dark Knight Rises sendiri merupakan film aksi yang penuh adegan kekerasan. (sedikit saran: agaknya bijak untuk tidak mengajak anak dibawah 13 tahun untuk menonton film ini :P).

Namun demikian, peristiwa-peristiwa kekerasan nan brutal ini juga mengilhami para pembuat film untuk menyampaikan gagasannya. Ada beberapa film yang menyoroti soal perilaku kekerasan yang demikian. Sebut saja misalnya: “We Need to Talk About Kevin” (film ini mengambil sudut pandang dari ibu pelaku penembakan massal), “Elephant”, “Zero Day”, dan yang paling saya ingat: “Bowling for Columbine”, film dokumenter garapan Michael Moore.

Bowling for Columbine menyoroti kisah tahun 1999 silam, tepatnya tanggal 20 April, disebuah kawasan yang bernama Columbine. Kala itu, dua remaja yaitu Eric Harris dan Dylan Klebold, dengan senjata api, memberondong kawan-kawannya satu sekolahan. 12 siswa dan 1 guru tewas oleh serangan itu. Kemudian dua remaja itu bunuh diri sehabis melakukan aksi brutal tersebut. Tragis.

Lewat film Bowling for Columbine, Michael Moore berusaha mencari tahu kenapa aksi brutal semacam itu bisa terjadi. Upaya Michael Moore itu difokuskan pada lingkungan di seputaran Columbine dan pendapat warga setempat mengenai kejadian tragis tersebut. Moore juga berusaha mengungkap budaya kekerasan secara umum di Amerika Serikat.

Judul “Bowling” untuk film itu terambil dari aktifitas Eric Harris dan Dylan Klebold, pagi hari sebelum melakukan aksinya, mereka hadir di kelas Bowling, yang merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah mereka. Pukul 6 pagi mereka mengikuti kelas bowling, pukul 11 siang, mereka menyerang teman-temannya dengan senjata api.

Dalam satu wawancara dengan mantan teman sekelas kedua remaja itu, Moore berhasil mendapatkan statement bahwa kelas bowling tersebut adalah wujud nyata betapa sistem pendidikan yang ada tidak merespon apa yang sebetulnya menjadi kebutuhan siswa. Dengan kata lain: Tidak Mendidik!

Mengenai kekerasan itu sendiri, Moore tidak setuju dengan anggapan umum bahwa aksi itu terjadi karena kultur semisal musiknya Marlyn Manson, Film-film dengan tema kekerasan, ataupun videogames. Moore menyanggah pendapat umum tersebut dengan statistik; di Jerman, Marlyn Manson sangat populer, bahkan sampai membentuk sebuah cult yang cukup besar, namun angka kekerasan di negara tersebut tergolong rendah. Demikian pula dengan Film, ia mengambil sampel film The Matrix (yang juga penuh aksi kekerasan), begitu digemari di Prancis, namun angka kekerasan disana juga masih rendah. Akan halnya videogames bertema kekerasan, tentu saja gudangnya adalah Jepang, dan hasilnya sama, angka kekerasan di Jepang juga rendah.

Moore tidak dapat menyalahkan siapa-siapa mengenai tingginya angka penembakan massal seperti yang terjadi di Columbine High School itu. Secara sarkas, ia mengungkapkan bahwa aksi kekerasan itu bisa saja muncul sebagai respon atas pelajaran Bowling di sekolahan, atau dari lagu-lagu Marlyn Manson, atau bahkan dari tindakan Bill Clinton (presiden AS waktu itu), yang mulai menyerang beberapa negara lain.

Satu kesan yang kuat muncul ketika menyaksikan film ini ialah bagaimana Michael Moore menggambarkan betapa orang-orang Amerika seperti hidup dalam ketakutan, begitu takutnya sehingga merasa perlu untuk memiliki senjata api untuk melindungi diri..

Saya jadi ingat Asterix, pahlawan kecil asal Galia. Katanya: “orang romawi memang gila”.

Popular posts from this blog

Saatnya Spotify, Saatnya Cari Spot Jodoh, Mblo!

Ada jamannya sewaktu internet belum begitu semarak, jejaring pertemanan masih dikuasai Friendster (buat yang alay), dan Myspace (buat yang anak band). Jaman Raditya Dika blog nya masih lucu dan segar, jaman belum ada tumblr, yang ada cuman multiply. Waktu itu, internet belum terlalu mendarah daging, bahkan warnet-warnet harus menaruh folder khusus berisi film-film syur berformat 3gp guna menarik perhatian khalayak.
Di jaman serba ga enak itu, ada sebuah situs yang menggeliat. Situs itu bernama last.fm. Situs dengan premis sederhana, memamerkan playlistmu kepada dunia. Biar orang tahu seberapa keren dan seberapa tinggi selera musikmu. Last.fm sesungguhnya adalah sebuah database musik nan ciamik. Band-band kecil pun bisa muncul disitu, nampang bareng Radiohead, Blur, atau segudang musisi beken lainnya.
Itu kalau buat yang punya band. Kalau buat orang biasa kayak kita-kita? Ya buat cari jodoh, tho!
Dulu ada kegiatan khas anak muda jomblo yang sok keren. Beli iPod shuffle, kemudian diisi den…

Mitos Pencuri Buah

Buah itu rasanya kecut, membuat lidah serasa dicubit, sensasinya mirip seperti kalau kamu menggigit jambu monyet. Bentuknya bulat, seperti tomat kecil, warnanya jingga.

“Cobalah, ini enak kalau dibuat rujak” kata seorang teman pada seorang teman yang lain, anak baru dari jawa.

Digigitnya buah itu, lalu teman baru dari jawa itu memuntahkannya seketika.

“Nggak enak! Sepet!!” katanya. Kami semua tertawa, selalu menyenangkan 'menyiksa' kawan baru dengan buah dari pohon perdu ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya kalau kawan baru ini ditawari makan buah Kecacil, yang rasanya kecut luar biasa.

Bekul, demikian orang Bali menyebut nama buah itu. Pohonnya yang pendek penuh duri, dulu mudah ditemui di sepanjang perjalanan menuju pantai kuta. Tepatnya di perkampungan di sebelah barat jalan legian. Belakangan saya temui, nama latin buah ini ‘Ziziphus mauritiana‘.


“Sebaiknya jangan banyak banyak makan buah bekul, bisa sempengot!” begitu nasehat kami dulu. Teman bar…

Begini cara saya membuat media center secara murah

Saya gemar menonton film. Sebagian besar isi harddisk di laptop saya habis terpakai untuk menyimpan file-file film dan serial TV. Suatu hari saya bosan menonton film di laptop. Saya ingin menonton film dan serial dari layar TV saja. Syukurlah sekarang sudah ada berbagai perangkat yang memungkinkan saya memutar film di laptop tapi munculnya di layar TV.

Perangkat yang saya maksud disini tak lain tak bukan ialah Chromecast. Ia adalah perangkat kecil yang memungkinkan laptop dan gadget berkomunikasi dengan TV. Singkatnya, membuat TV biasa menjadi berasa kayak Smart TV. Syarat utamanya: ada jaringan wifi.

Perangkat mini ini bekerja dengan sangat baik. Buat pemalas kayak saya, alat ini membuat hidup saya tambah bahagia sedikit. Nonton video-video streaming dari gadget, tapi hasil streamingnya tersaji di TV. Iklan-iklan Youtube juga jadi hilang kalau diputarnya via Chromecast. Menyenangkan sekali.

Bagaimana dengan memutar film-film dari laptop? Tentunya banyak pilihannya. Banyak yang grati…