Anda kenal Felix Miller? Anda kenal Richard Jones?
Jika belum kenal, maka, perkenalkan, beliau-beliau ini adalah salah dua dari pencipta situs web paling keren sepanjang sejarah: Last.fm.

Last.fm, situs web pertemanan seperti facebook atau twitter, dengan konsep utamanya adalah: ajang berbagi playlist musik. Felix Miller berhak untuk tidak setuju dengan terminologi asal-asalan yang saya bikin itu. Tapi kenyataannya, saya memakainya untuk itu, untuk berbagi playlist musik.

Kegiatan berbagi playlist ini akan berujung pada penemuan artis-artis baru yang tidak terkenal tapi lagunya bagus. Terdengar seperti kegiatan seorang hipster? Memang. Last.fm adalah salah satu alat termudah untuk menjadi hipster.


Sering terjadi, ketika saya menyetel lagu-lagu dari perangkat komputer, teman-teman saya bertanya:

"Lagu-lagu lo aneh-aneh.... tapi enak-enak sih"

Hipster sekali, bukan?

Teman-teman saya tidak tahu kalau saya punya akun last.fm

Last.fm adalah situs web yang memungkinkan penggunanya untuk mengumumkan kepada dunia, lagu apa yang sedang ia dengarkan. Berbeda dengan hashtag #nowplaying nya twitter (saya tidak mengerti itu hashtag maksudnya apa). Last.fm mengijinkan penggunanya untuk mengunduh plugin bernama "scrobbler", yang bisa diinstall di perangkat komputer, maupun gadget seperti smartphone atau ipod.

Scrobbler akan merekam data musik yang anda putar, mengirimnya ke server, lalu mempublikasikannya ke halaman last.fm anda. Kegiatan ini diberinama "Scrobling". Hasil scrobbling akan mengantarkan anda pada segudang artis-artis lain yang masih berada dalam satu genre.

Bah! Apa hebatnya?

Memang kesannya biasa-biasa saja. Tapi inti sosial media adalah berbagi. Di facebook anda berbagi foto, di Twitter anda berbagi kegalauan, nah, di Last.fm, anda berbagi selera musik. 

Jika ada dua orang asing bertemu, lalu mulai berkenalan, lalu menemukan bahwa selera musiknya sama, lalu mereka berjodoh. Ah! Ah! Ah! Saya yakin baik Felix Miller maupun Richard Jones tidak akan menduga kalau teknologi yang mereka ciptakan ini juga berpeluang menjadi biro jodoh. Karena di jaman modern seperti tahun 2012 ini, keberuntungan seperti yang dialami oleh Lupus (yang kakinya diinjak oleh seorang cewek di bis kota, lalu mereka berkenalan. Turun dari bis, mereka hang out bareng)... Hal-hal seperti itu sudah jarang sekali terjadi.

Bagi perkembangan industri musik, teknologi semacam ini bisalah dikategorikan sebagai tepat guna. Orang bisa saja mengatakan situs tersebut sebagai media sosial, ajang menjadi hipster, atau untuk mencari jodoh. Tapi satu hal yang pasti adalah: situs tersebut merupakan database musik yang (mungkin) terbesar didunia.

Sebenarnya saya pernah punya pemikiran yang serupa. Saya pernah bikin konsep tentang aplikasi berbasis web yang memungkinkan orang untuk memamerkan selera musiknya. Tapi konsep saya itu benar-benar mengarah ke situs perjodohan sih..

Syukurlah kertas corat-coretan konsep tersebut hilang keesokan harinya.