Skip to main content

Drama Makan Siang di Mumbai, India



Nangis Bombay. Frase ini mungkin dibikin sewaktu ada orang yang lagi ngiris bawang, lalu matanya perih, lalu mata tersebut berair. Mirip orang menangis. Atau bisa juga begini: ada orang nonton film India, lalu menangis, entah karena inspektur vijay terlambat datang, atau karena terbawa syahdu lagu-lagu hindustan yang kelewat melengking.

The Lunchbox, film india, tidak memberikan sensasi tersebut. Sebaliknya, film ini malah bikin saya tertegun, terdiam, terpesona, karena film ini bagus banget!

Ceritanya sederhana: Ada seorang Istri, namanya Ila (Nimrat Kaur), dia jago masak, setia ngirim rantang makan siang buat suaminya di kantor (di film ini kita bisa lihat montase sistem delivery makanan tersebut dari rumah ke kantor, btw nama sistem ini dabbawala). Tapi ternyata, rantang makanan Ila gak pernah sampai ke suaminya. Rantang tersebut malah nyampai ke meja Sanjaar Fernandes (Irrfan Khan), seorang Akuntan tua yang pendiam dan terkenal tidak ramah.

Dari situ, kisah romantis dimulai. Dengan medium surat tulis tangan, dua orang ini tiap hari saling bercakap-cakap, makin lama makin akrab, makin intim, bikin yang nonton gemes. Sepertinya sih, penonton tidak akan ikut gemes kalau akting pemainnya tidak bagus. Tapi di film ini, kedua pemain memberikan performa meyakinkan yang dengan mudah dibeli oleh penonton. Lagipula, buat warga Jakarta, karakter macam si Sanjaar ini mudah ditemui. Dia kelas pekerja biasa, bergelantungan di KRL tiap berangkat kerja, kadang naik bajaj, sesekali naik taksi. Kalau habis makan malam, ia merokok di teras sambil melihat rumah-rumah tetangganya. Sementara si Ila, digambarkan sebagai wanita yang hanya berada di wilayah domestik.

The Lunchbox dengan pelan, santai, tidak terburu-buru, membuka kerumitan-kerumitan cerita. Bagaimana Ila tidak bahagia dengan keluarganya, bagaimana ayahnya tidak berguna hanya bisa berbaring saja di kasurnya, bagaimana tetangganya yang bijak mengomporinya untuk mengambil tindakan-tindakan tertentu. Ngomong-ngomong, kedua karakter ini: Ayah dan tetangganya, cukup misterius, karena tidak pernah kelihatan mukanya :P

Simak juga perjalanan Sanjaar, si akuntan tua yang tertutup, yang tidak disukai oleh koleganya, tidak disukai oleh anak-anak kecil di sekitar rumahnya. Tapi dari mulutnya, kita akan mendengarkan cerita-cerita tentang kota, tentang keluarga, tentang rekan kerja, tentang hidup, dengan tone yang wajar dan jauh dari preaching.

Cerita menjadi sangat intens ketika akhirnya kedua tokoh kita ini memutuskan untuk bertemu. Tentu ada kejutan-kejutan disitu, tapi dasar film ini memang halus dan lembut, kejutannya pun disampaikan dengan pelan tapi pasti.

Namun lebih daripada itu, The Lunchbox dengan segala kesederhanaannya, ia menangkap sebuah momen perubahan yang pesat, atau bahkan sangat pesat, di Mumbai, India. Bagaikan sebuah foto, ia memotret manusia dengan fokus, dengan latar kota yang indah dan perubahannya yang mengancam.

Sebagaimana Leo Tolstoy berkata: Semua keluarga bahagia mirip satu sama lain. Semua keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing. Dengan kata lain, dalam konteks sebuah kisah fiksi: keluarga bahagia itu membosankan, keluarga tidak bahagia itu menarik. The Lunchbox, film ini membuktikan bahwa Leo Tolstoy masih benar belaka.

Popular posts from this blog

Saatnya Spotify, Saatnya Cari Spot Jodoh, Mblo!

Ada jamannya sewaktu internet belum begitu semarak, jejaring pertemanan masih dikuasai Friendster (buat yang alay), dan Myspace (buat yang anak band). Jaman Raditya Dika blog nya masih lucu dan segar, jaman belum ada tumblr, yang ada cuman multiply. Waktu itu, internet belum terlalu mendarah daging, bahkan warnet-warnet harus menaruh folder khusus berisi film-film syur berformat 3gp guna menarik perhatian khalayak.
Di jaman serba ga enak itu, ada sebuah situs yang menggeliat. Situs itu bernama last.fm. Situs dengan premis sederhana, memamerkan playlistmu kepada dunia. Biar orang tahu seberapa keren dan seberapa tinggi selera musikmu. Last.fm sesungguhnya adalah sebuah database musik nan ciamik. Band-band kecil pun bisa muncul disitu, nampang bareng Radiohead, Blur, atau segudang musisi beken lainnya.
Itu kalau buat yang punya band. Kalau buat orang biasa kayak kita-kita? Ya buat cari jodoh, tho!
Dulu ada kegiatan khas anak muda jomblo yang sok keren. Beli iPod shuffle, kemudian diisi den…

Mitos Pencuri Buah

Buah itu rasanya kecut, membuat lidah serasa dicubit, sensasinya mirip seperti kalau kamu menggigit jambu monyet. Bentuknya bulat, seperti tomat kecil, warnanya jingga.

“Cobalah, ini enak kalau dibuat rujak” kata seorang teman pada seorang teman yang lain, anak baru dari jawa.

Digigitnya buah itu, lalu teman baru dari jawa itu memuntahkannya seketika.

“Nggak enak! Sepet!!” katanya. Kami semua tertawa, selalu menyenangkan 'menyiksa' kawan baru dengan buah dari pohon perdu ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya kalau kawan baru ini ditawari makan buah Kecacil, yang rasanya kecut luar biasa.

Bekul, demikian orang Bali menyebut nama buah itu. Pohonnya yang pendek penuh duri, dulu mudah ditemui di sepanjang perjalanan menuju pantai kuta. Tepatnya di perkampungan di sebelah barat jalan legian. Belakangan saya temui, nama latin buah ini ‘Ziziphus mauritiana‘.


“Sebaiknya jangan banyak banyak makan buah bekul, bisa sempengot!” begitu nasehat kami dulu. Teman bar…

Begini cara saya membuat media center secara murah

Saya gemar menonton film. Sebagian besar isi harddisk di laptop saya habis terpakai untuk menyimpan file-file film dan serial TV. Suatu hari saya bosan menonton film di laptop. Saya ingin menonton film dan serial dari layar TV saja. Syukurlah sekarang sudah ada berbagai perangkat yang memungkinkan saya memutar film di laptop tapi munculnya di layar TV.

Perangkat yang saya maksud disini tak lain tak bukan ialah Chromecast. Ia adalah perangkat kecil yang memungkinkan laptop dan gadget berkomunikasi dengan TV. Singkatnya, membuat TV biasa menjadi berasa kayak Smart TV. Syarat utamanya: ada jaringan wifi.

Perangkat mini ini bekerja dengan sangat baik. Buat pemalas kayak saya, alat ini membuat hidup saya tambah bahagia sedikit. Nonton video-video streaming dari gadget, tapi hasil streamingnya tersaji di TV. Iklan-iklan Youtube juga jadi hilang kalau diputarnya via Chromecast. Menyenangkan sekali.

Bagaimana dengan memutar film-film dari laptop? Tentunya banyak pilihannya. Banyak yang grati…