Bagaimana caranya memanggil kembali sebuah kenangan yang sudah terpendam lama, yang bahkan ingatan pun tidak mampu melacaknya? Dalam Attila Marcel, Madame Proust tahu resepnya, yaitu dengan secangkir teh herbal, sepotong kue Madeleine, dan memutar lagu-lagu yang menyenangkan.

Tunggu sebentar. Teh dan madeleine membangkitkan Kenangan? Madame Proust?

Si Madame Proust itu siapanya Marcel Proust?!

Sekalipun film ini dibuka dengan quote milik Marcel Proust, tapi rasanya tidak ada hubungan apa-apa kok antara si Madame dengan penulis tersohor itu. Lagipula, tokoh utama dalam Attila Marcel bukanlah si Madame Proust, melainkan Paul, seorang pianis berumur 30 tahun yang hidupnya ya ampun sedih benar.

Berbagai kejadian traumatis yang menimpa Paul, benar-benar tragis. Trauma yang dialami Paul pun cukup memilukan, membuatnya bisu sejak usianya baru dua tahun. Tapi dalam Attila Marcel, segala macam yang tragis itu disajikan dengan warna-warni cerah ceria yang mencolok. Efeknya cukup bikin resah. Saya sempat merasa depresi saat menontonnya. Rasa yang mirip sewaktu nonton Forrest Gump, sedih-sedih lucu, tapi ngilu jua.

Sinopsis

Ceritanya Paul pianis bisu ini tinggal di apartemen di Paris bersama tante-tantenya, dua aristokrat tua yang membesarkannya sejak kecil. Kedua tantenya itu mendidik Paul menjadi pianis andal. Akibatnya, hidupnya terkungkung dalam rutinitas keseharian antara bermain piano dan mengiringi kelas dansa yang dikelola kedua tantenya. Paul terisolasi dari dunia luar, apalagi walaupun usianya sudah 30 tahun, tapi kedua tantenya tetap memperlakukan Paul seperti kanak-kanak.

Kehidupan Paul berubah saat ia bertemu dengan Madame Proust, yang memberinya resep untuk membongkar kenangan-kenangan yang sudah tenggelam dalam memori Paul. Kenangan-kenangan masa kecil yang berhasil dibangkitkan itu membawa Paul untuk mengingat siapa Attila Marcel (ayahnya) dan Anita Marcel (ibunya). Tentu saja kenangan-kenangan ini membuat Paul menangis bahagia. Apalagi kenangan ini hadir diiringi lagu-lagu bernada ceria.

Tapi nanti dulu. Penderitaan belum berakhir. Satu kenangan yang begitu menyakitkan juga menyengatnya. Saya tidak tega menceritakannya disini.

Sutradara Usil

Sylvain Chomet, sutradara film ini sebelumnya dikenal sebagai komikus dan animator. Ia pernah memenangkan Diplôme de l’Atelier pada Festival Komik Internasional di Angoulême pada 1987. Lalu, pada tahun 1991, ia memulai pengerjaan film pendek La Vieille Dame et les pigeons yang ia selesaikan lima tahun kemudian dan masuk nominasi Oscar.

Film panjang pertamanya, Les Triplettes de Belleville, ditayangkan perdana di Cannes pada 2003. Pada 2011, ia mengadaptasi skenario Jacques Tati yang belum selesai, L’Illusionniste, dan diganjar banyak penghargaan. Dua tahun kemudian, ia menyutradarai film panjang pertamanya, yang bukan animasi, Attila Marcel. Ada banyak adegan di Attila Marcel yang mengingatkan kita pada Les Triplettes de Belleville. Sepertinya Sylvain Chomet memakai pendekatan yang kartun banget di film barunya ini.

Sylvain Chomet, mungkin dia ini usil banget orangnya. Semua tokoh yang muncul dalam film Attila Marcel ini sangat komikal dan karikatur banget wujudnya. Dan semua tokoh yang komikal ini dengan segera memerintahkan otak untuk mengantisipasi adegan-adegan lucu. Brengseknya adalah mereka tidak mengantarkan cerita komedi, melainkan kisah tragis. Tapi jujur saja, konflik batin yang ditimbulkan oleh kontras tersebut, menimbulkan kenikmatan tersendiri. Depresi tapi unyu.