Musik itu, kata Albus Dumbledore seraya menyeka air matanya, jauh lebih magis dari segala sihir yang dipelajari di Hogwarts. Sepertinya Bapak Kepala Sekolah paling tenar se seantero Inggris Raya itu benar belaka. Di Indonesia, musik sering kali memiliki kaitan erat dengan semesta, baik alam sekitar maupun alam gaib. Umar Kayam dalam kumpulan kolom di koran Kedaulatan Rakyat, pernah pula menyampaikan hal serupa. Betapa penduduk Yogyakarta setia pergi ke alun-alun demi mendengarkan gamelan Kiai dan Nyai Sekati tiap kali Perayaan Sekaten tiba. Menurut Mr. Rigen—Tokoh lucu dan ngeyel di kumpulan kolom Umar Kayam-- Gamelan Kiai dan Nyai Sekati adalah gamelan yang bukan sakbaene gamelan. Bukan gamelan sembarangan. Gamelan yang sanggup membuat pendengarnya pada merinding semua. “Ning merindingnya itu merinding yang baik", kata Mr. Rigen.

Ritmisnya musik-musik tradisional Indonesia memang bisa bikin merinding. Dalam peristiwa tertentu, ia malah bisa bikin trance. Coba tengok kuda lumping kalau tidak percaya. Tabuhan gendang yang ritmis, membuat situasi yang tadinya tenang menjadi begitu tegang dan mencekam. Takut ikut kesurupan.

Megah dan meriahnya pawai Ogoh-ogoh malam sebelum Hari Raya Nyepi di Bali juga tidak bisa dilepaskan dari musik tradisional yang mengiringinya. Sebagaimana tariannya yang lincah dan penuh tenaga, musik tradisional Bali pun demikian. Temponya cepat, ceria, meriah, ramai. Pawai ogoh-ogoh ini adalah salah satu pawai tradisional paling seru!

Tentunya tiap-tiap daerah di Nusantara tercinta memiliki musik khas masing-masing. Itu salah satu wujud ke-Bhinekaan yang patut dinikmati dan dirayakan. Maka bersyukurlah ketika ada musisi-musisi masa kini yang setia mengulik akar-akar musik tradisional ini. Salah satunya, ketika Erwin Gutawa meracik musik dengan memberi unsur etnik Sumba untuk film Pendekar Tongkat Emas. Dipadu dengan gambar-gambar Sumba yang elok, bikin yang nonton pengen segera berangkat ke Sumba.

Bagaimana dengan dunia band Indonesia, adakah anak Band Indonesia yang melakukan hal serupa? Tentu saja ada. Dan ini harus disyukuri betul. Dua diantara musisi-musisi ini yang saya ingat betul adalah Semakbelukar dan Suarasama. Upaya mereka mengulik akar-akar musik membuat musik mereka begitu keren ampun-ampunan. Tidak bersenandung patah hati belaka, namun mengajak berkontemplasi bahwasanya hidup itu lebih luas dari upaya mengejar lawan jenis semata. Galau adalah kemarin. Sudah basi.

Suarasama, band ini demikian bedebahnya, sehingga dengan begitu layaknya ia bertengger pula di situs kiblat Hipster dunia: Pitchfork. Tapi coba dulu tengok karyanya. Sangar. Mencampur adukkan berbagai elemen-elemen musik tradisional dari Sumatra, India, Afrika, Timur Tengah sampai Eropa, menjadi begitu magis, yang barangkali bisa membuat Albus Dumbledore alih-alih jadi penyihir, melainkan jadi musisi.

Digawangi oleh suami istri Irwansyah Harahap & Rithaony Hutajulu, Suarasama membentangkan musiknya seluas mungkin, mendobrak batasan-batasan geografis. Simak saja track yang berjudul "Sang Hyang Guru" atau "Fajar Di Atas Awan", tema-tema yang begitu transenden dan agaknya bisa menjawab keraguan bahwa musik memang universal. Perbedaan bahasa tidak menjadi kendala. Biarkan musiknya yang bicara. “Searching beyond borders in all directions and dimensions for spiritual truth by way of melody", kalau kata Joshua Klein ketika menulis review untuk album Fajar Di Atas Awan.

Adapun saya seperti orang Indonesia lainnya, begitu mudah terharu ketika ada saudara kita setanah air mencetak prestasi yang bikin bangga. Rasanya tak percaya melihat ada nama-nama Indonesia bertengger di situs web sekeren Pitchfork. Barangkali saya norak—memang sih--, tapi ini toh bukan sesuatu yang keliru. Yang penting diingat adalah bahwa apresiasi tinggi tersebut datang justru ketika Band ini memainkan musik dengan root yang jelas. Memainkan musik folk nya sendiri. Bukan folk yang didefiniskan oleh hipster-hispter brewokan. Bukan pula mengulik akar musik Eropa sampai ke negeri para peri. Buat apa jauh-jauh ke Islandia kalau di tanah sendiri juga tidak kalah keren. Jangan-jangan kita memang belum mau ngulik kekayaan sendiri?

Lain lagi dengan Semakbelukar. Band dari Palembang ini juga demikian bedebahnya sehingga dengan santainya membubarkan diri justru ketika orang-orang makin penasaran dengan karya-karya yang mereka sajikan. Membubarkan dirinya dengan pernyataan yang beringas pula: menghancurkan alat-alat musik mereka dengan palu dan linggis sehabis konser. Sungguh suatu pernyataan sikap yang gagah.

Akan halnya musiknya, ia berakar pada musik-musik dari ranah melayu. Lengkap dengan rebana dan Akordeon. Ritmis dan magis pastinya. Dengan cengkok melayu yang kental mendayu-dayu dan lirik yang wahai! Diksinya kaya betul. Semakbelukar sempat mencuri perhatian dengan ramuan folk melayunya. Bukan hanya musiknya, namun juga liriknya. Mengulik akar melayu tidak hanya pada melodinya saja, namun juga pada diksi yang menjadi keunikan sekaligus kekuatan tersendiri pada karya yang mereka tawarkan. Menarik sekali apa yang mereka mainkan ini. Semakin menarik ketika mereka memainkan musiknya untuk bersenang-senang, jauh dari ambisi menjadi tenar dan populer. Akibatnya, mereka jadi menghasilkan musik yang jujur dan tulus. Sulit sekali untuk tidak jatuh hati pada band unik yang satu ini.

Sekilas, di beberapa bagian, suara vokalis Semakbelukar mirip dengan warna suaranya Cholil Mahmud (ERK). Ironisnya, ERK pernah menyindir musik pop Indonesia yang didominasi irama melayu sebagai mendayu-dayu dan liriknya cinta melulu. Nah, Semakbelukar sekonyong-konyong menjawab itu, dengan santai, secara sederhana, namun indah dan paten. Musik melayu ternyata bisa sekeren ini. Betapa bahagianya saya ketika mendapati Yes No Wave, sebuah online label asal Yogya turut menyiarkan tentang band ini. Sekali dengar langsung fanatik. Hahaha :P

Dua nama ini, Suarasama dan Semakbelukar, berhasil menunjukkan dengan baik bahwa kemampuan untuk mengenali diri sendiri adalah faktor untuk menciptakan karya yang indah. Sebab demikian banyak musik yang tidak berkarakter telah menyulitkan kita untuk membedakan ini musik siapa, si ini atau si itu, wajar bila telinga butuh rekreasi. Telinga kita butuh musik-musik yang berkarakter. Dan karena saya orang Indonesia, karakter musik tradisional Indonesia sesungguhnya lebih mudah dicerna oleh telinga. Saya tidak tahu apakah efek yang mendera saya sama seperti kamu. Ketika saya mendengar karya dua nama yang kita bahas ini, saya merasa larut lalu hanyut dalam nostalgi. Barangkali disinilah salah satu sihir musik bekerja. Nostalgia macam apa yang bisa ditimbulkan oleh karya yang lahir di dekade 2000-an. Namun sungguh ada suatu koneksi disitu, barangkali oleh tabuhan rebana, dentingan mandolin, atau alunan akordeon, yang membawa saya ke sebuah tempat yang jauh nan damai.

Musik sejatinya magis. Saya percaya itu. Namun ketika ia diciptakan dengan genjrang-genjreng gitar belaka, saya curiga ia berpotensi kehilangan dayanya, lalu berubah menjadi musik ngak ngik ngok yang dibenci Bung Karno. Kecuali mungkin, di tangan anak punk yang peka, genjrang genjreng belaka bisa saja menjadi musik yang menggerakkan, menggelorakan perlawanan. Yang penting distorsi. Atas nama anak 90-an yang sempat mengira Kurt Cobain adalah dewa, saya kira hal ini sama lah magisnya.