Skip to main content

Membeli Buku dan Tidak Membacanya



Tiap kali ngantor, kala makan siang, saya selalu mampir ke toko buku. Kutu buku? Snob? Otaku? Tidak juga. Kebetulan saja kantor saya terletak dalam gedung yang sama dengan beberapa toko buku besar. Untuk pergi ke kantin, saya harus melewati toko buku tersebut.

Sekilas melihat buku-buku yang terpampang di etalase, saya mendapati nama-nama pengarang atau judul-judul bukunya nan terasa familiar. Familiar sebab sering diperbincangkan, baik dari mulut ke mulut maupun lewat media-media seperti majalah, koran, ataupun social media seperti blog, facebook atau twitter.

Diterjang dengan terpaan semacam itu, sering saya tidak berdaya, lalu memutuskan untuk membeli buku yang terpampang di etalase. Suka membaca? Tidak juga. Suka membeli, lebih tepatnya. Suka mengoleksi, lebih tepatnya lagi. Ada semacam perasaan senang ketika membeli buku, sekalipun perasaan itu berangsur hilang ketika sudah sampai rumah.

Saya percaya, membeli buku dan tidak membacanya adalah tindakan yang wajar. Hasrat untuk beli buku dan baca buku adalah dua hal yang berbeda. Manusia pada dasarnya memang suka mengoleksi. Ada yang suka mengoleksi mobil, lukisan, patung, mainan, baju, sepatu, tas, poster, burung, dan lain sebagainya. Disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing pelaku.

Hobi mengoleksi ini kadang tidak ada hubungannya dengan perilaku konsumtif. Misalnya, dulu saya pernah punya teman mahasiswa yang hobinya mengoleksi name tag panitia acara. Dia aktif sekali di acara-acara kampus, dan di kamarnya kita bisa menemukan setumpuk name tag dari berbagai acara, dari acara musik sampai acara bakti sosial.

Teman saya yang lainnya, suka mengoleksi bungkus rokok. Bertumpuk-tumpuk di jendela kamarnya. Entah apa motivasinya. Lain lagi dengan teman yang lain yang suka mengunduh film dan musik di Internet. Hasil unduhannya banyak sekali, tapi cuma sedikit yang didengarkan atau ditonton. Mencari tahu alasan kenapa orang mengoleksi sesuatu, bisa jadi terdapat banyak sekali jawabannya.

I believe the main reason people collect something is a basic interest in the topic. - Kurt Kuersteiner
(Saya nggak percaya quote ini)

Mengenai hobi mengoleksi buku, kadang penerbit juga memanfaatkan celah ini. Mereka menerbitkan beberapa seri buku (seringnya komik), yang bila dirangkai secara baik dan benar, punggung bukunya menampilkan sosok tertentu. Terakhir saya lihat, Djenar Maesa Ayu juga melakukannya. Bukan punggung buku, melainkan cover buku. Jika dirangkai, buku-buku Djenar tersebut menampilkan sosok Djenar sedang berbaring. Cakep nian!

Seperti perkataan orang bijak yang saya lupa namanya, bahwa buku yang baik itu cemerlang dilihat dari segala sudut. Hal-hal semacam permainan gambar punggung buku atau desain cover yang ciamik itu kian mempertebal keyakinan saya bahwa tidak ada salahnya untuk membeli buku dan tidak membacanya.

Popular posts from this blog

Saatnya Spotify, Saatnya Cari Spot Jodoh, Mblo!

Ada jamannya sewaktu internet belum begitu semarak, jejaring pertemanan masih dikuasai Friendster (buat yang alay), dan Myspace (buat yang anak band). Jaman Raditya Dika blog nya masih lucu dan segar, jaman belum ada tumblr, yang ada cuman multiply. Waktu itu, internet belum terlalu mendarah daging, bahkan warnet-warnet harus menaruh folder khusus berisi film-film syur berformat 3gp guna menarik perhatian khalayak.
Di jaman serba ga enak itu, ada sebuah situs yang menggeliat. Situs itu bernama last.fm. Situs dengan premis sederhana, memamerkan playlistmu kepada dunia. Biar orang tahu seberapa keren dan seberapa tinggi selera musikmu. Last.fm sesungguhnya adalah sebuah database musik nan ciamik. Band-band kecil pun bisa muncul disitu, nampang bareng Radiohead, Blur, atau segudang musisi beken lainnya.
Itu kalau buat yang punya band. Kalau buat orang biasa kayak kita-kita? Ya buat cari jodoh, tho!
Dulu ada kegiatan khas anak muda jomblo yang sok keren. Beli iPod shuffle, kemudian diisi den…

Mitos Pencuri Buah

Buah itu rasanya kecut, membuat lidah serasa dicubit, sensasinya mirip seperti kalau kamu menggigit jambu monyet. Bentuknya bulat, seperti tomat kecil, warnanya jingga.

“Cobalah, ini enak kalau dibuat rujak” kata seorang teman pada seorang teman yang lain, anak baru dari jawa.

Digigitnya buah itu, lalu teman baru dari jawa itu memuntahkannya seketika.

“Nggak enak! Sepet!!” katanya. Kami semua tertawa, selalu menyenangkan 'menyiksa' kawan baru dengan buah dari pohon perdu ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya kalau kawan baru ini ditawari makan buah Kecacil, yang rasanya kecut luar biasa.

Bekul, demikian orang Bali menyebut nama buah itu. Pohonnya yang pendek penuh duri, dulu mudah ditemui di sepanjang perjalanan menuju pantai kuta. Tepatnya di perkampungan di sebelah barat jalan legian. Belakangan saya temui, nama latin buah ini ‘Ziziphus mauritiana‘.


“Sebaiknya jangan banyak banyak makan buah bekul, bisa sempengot!” begitu nasehat kami dulu. Teman bar…

Begini cara saya membuat media center secara murah

Saya gemar menonton film. Sebagian besar isi harddisk di laptop saya habis terpakai untuk menyimpan file-file film dan serial TV. Suatu hari saya bosan menonton film di laptop. Saya ingin menonton film dan serial dari layar TV saja. Syukurlah sekarang sudah ada berbagai perangkat yang memungkinkan saya memutar film di laptop tapi munculnya di layar TV.

Perangkat yang saya maksud disini tak lain tak bukan ialah Chromecast. Ia adalah perangkat kecil yang memungkinkan laptop dan gadget berkomunikasi dengan TV. Singkatnya, membuat TV biasa menjadi berasa kayak Smart TV. Syarat utamanya: ada jaringan wifi.

Perangkat mini ini bekerja dengan sangat baik. Buat pemalas kayak saya, alat ini membuat hidup saya tambah bahagia sedikit. Nonton video-video streaming dari gadget, tapi hasil streamingnya tersaji di TV. Iklan-iklan Youtube juga jadi hilang kalau diputarnya via Chromecast. Menyenangkan sekali.

Bagaimana dengan memutar film-film dari laptop? Tentunya banyak pilihannya. Banyak yang grati…