Skip to main content

Para Pengancam Hollywood

Industri perfilman Hollywood selalu menghadapi ancaman dari para pembajak. Situs-situs torrent tentunya memiliki andil besar dalam hal ini. Tapi belakangan ada modus baru yang lebih menyenangkan daripada torrent, baik yang legal maupun yang super ilegal. Saya akan sebut dua saja untuk mewakili masing-masing entitas tersebut: Netflix & Popcorn Time.

Netflix 

Situs ini merupakan salah satu situs yang pertumbuhan usernya sangat cepat. Layanan Netflix memberikan servis streaming dengan koleksi konten yang sangat besar. Koleksi yang legal tentu saja. Karena legal, menonton di Netflix jadi lebih nyaman, tanpa rasa berdosa. Dengan koleksi konten film dan serial TV nya yang segudang, belum lagi dengan original series nya yang sangat bagus seperti House of Cards dan Orange is the new Black, Netflix jelas menebar ancaman. Mungkin yang paling deg-degan bukan Hollywood, tapi perusahaan TV kabel semacam HBO dan kawan-kawan. 

Untungnya, Netflix belum membuka akses nya di Indonesia. Perusahaan TV berbayar di Indonesia boleh kipas-kipas dulu. Tapi nanti kalau Netflix sudah membuka aksesnya di Indonesia, bakal ketar-ketir tuh semua perusahaan TV. Karena Netflix jelas menawarkan konten yang sangat bagus, yang tidak mampu di akomodir oleh layanan TV. Tapi kalau pengen nyoba aja, Netflix bisa kok di akses dari Indonesia. Silakan coba pakai layanan dari Hola.org. Lancar jaya kok.


Popcorn Time

Nah kalau yang ini, badass banget nih! Layanan popcorn time ini gak pakai ba bi bu, langsung sikat! Seolah mengunduh torrent itu masih kurang manteb, ini popcorn time bikin aplikasi buat streaming torrent langsung. Kecepatannya mengejutkan. Ilegal? Jelas!

Yang membedakan popcorn time dengan layanan-layanan ilegal lainnya adalah: Tampilannya profesional, bersih, clean, aman gak pakai iklan. Berasa seperti Netflix, bedanya, yang ini gratis dan super nakal. Di Belanda, kepopuleran Popcorn time malah udah nyaingin Netflix.

Tanpa iklan, tanpa malware, lalu Popcorn Time dapat uang darimana? Saya pribadi menduga bahwa mereka ini sekumpulan hacker gila belaka, yang lebih suka 'Power' daripada 'Money'. Kabar burungnya sih, Popcorn time ini dibangun oleh sekitar 20 orang yang tersebar di berbagai negara. Mengambil konsep peer to peer nya Bittorrent, di modif ke media streaming. Berbasis open source, dikerjakan di waktu senggang.

Terlepas dari segala dosa dan pelanggaran hukum yang mereka perbuat, Popcorn time sesungguhnya mengajarkan kepada kita, begini kalau mau bikin layanan streaming yang baik dan benar!

****

Dua fenomena ini, Netflix & Popcorn Time, menebarkan ancaman bagi Industri perfilman. Mereka mengubah cara kita menonton film. Mereka mengadaptasi ritme penonton jaman sekarang yang serba cepat dan instan. Ketika aktifitas membajak bisa dilakukan di rumah masing-masing, itu ancaman yang serius. Apalagi bagi bangsa yang kulturnya lebih suka menonton TV dibanding nonton Bioskop.

Popular posts from this blog

Saatnya Spotify, Saatnya Cari Spot Jodoh, Mblo!

Ada jamannya sewaktu internet belum begitu semarak, jejaring pertemanan masih dikuasai Friendster (buat yang alay), dan Myspace (buat yang anak band). Jaman Raditya Dika blog nya masih lucu dan segar, jaman belum ada tumblr, yang ada cuman multiply. Waktu itu, internet belum terlalu mendarah daging, bahkan warnet-warnet harus menaruh folder khusus berisi film-film syur berformat 3gp guna menarik perhatian khalayak.
Di jaman serba ga enak itu, ada sebuah situs yang menggeliat. Situs itu bernama last.fm. Situs dengan premis sederhana, memamerkan playlistmu kepada dunia. Biar orang tahu seberapa keren dan seberapa tinggi selera musikmu. Last.fm sesungguhnya adalah sebuah database musik nan ciamik. Band-band kecil pun bisa muncul disitu, nampang bareng Radiohead, Blur, atau segudang musisi beken lainnya.
Itu kalau buat yang punya band. Kalau buat orang biasa kayak kita-kita? Ya buat cari jodoh, tho!
Dulu ada kegiatan khas anak muda jomblo yang sok keren. Beli iPod shuffle, kemudian diisi den…

Mitos Pencuri Buah

Buah itu rasanya kecut, membuat lidah serasa dicubit, sensasinya mirip seperti kalau kamu menggigit jambu monyet. Bentuknya bulat, seperti tomat kecil, warnanya jingga.

“Cobalah, ini enak kalau dibuat rujak” kata seorang teman pada seorang teman yang lain, anak baru dari jawa.

Digigitnya buah itu, lalu teman baru dari jawa itu memuntahkannya seketika.

“Nggak enak! Sepet!!” katanya. Kami semua tertawa, selalu menyenangkan 'menyiksa' kawan baru dengan buah dari pohon perdu ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya kalau kawan baru ini ditawari makan buah Kecacil, yang rasanya kecut luar biasa.

Bekul, demikian orang Bali menyebut nama buah itu. Pohonnya yang pendek penuh duri, dulu mudah ditemui di sepanjang perjalanan menuju pantai kuta. Tepatnya di perkampungan di sebelah barat jalan legian. Belakangan saya temui, nama latin buah ini ‘Ziziphus mauritiana‘.


“Sebaiknya jangan banyak banyak makan buah bekul, bisa sempengot!” begitu nasehat kami dulu. Teman bar…

Begini cara saya membuat media center secara murah

Saya gemar menonton film. Sebagian besar isi harddisk di laptop saya habis terpakai untuk menyimpan file-file film dan serial TV. Suatu hari saya bosan menonton film di laptop. Saya ingin menonton film dan serial dari layar TV saja. Syukurlah sekarang sudah ada berbagai perangkat yang memungkinkan saya memutar film di laptop tapi munculnya di layar TV.

Perangkat yang saya maksud disini tak lain tak bukan ialah Chromecast. Ia adalah perangkat kecil yang memungkinkan laptop dan gadget berkomunikasi dengan TV. Singkatnya, membuat TV biasa menjadi berasa kayak Smart TV. Syarat utamanya: ada jaringan wifi.

Perangkat mini ini bekerja dengan sangat baik. Buat pemalas kayak saya, alat ini membuat hidup saya tambah bahagia sedikit. Nonton video-video streaming dari gadget, tapi hasil streamingnya tersaji di TV. Iklan-iklan Youtube juga jadi hilang kalau diputarnya via Chromecast. Menyenangkan sekali.

Bagaimana dengan memutar film-film dari laptop? Tentunya banyak pilihannya. Banyak yang grati…