Sekarang banyak banget pebisnis hiburan seperti Itunes, Netflix, Google Play Movies, Amazon, Hulu Plus, HBO GO, BBC.. Jika kita amati, mereka semua memiliki core bisnis yang sama: menawarkan layanan konten video yang mudah dan cepat. Pola bisnis mereka sama: meminta user membayar biaya langganan untuk mengakses konten. Tapi apa yang terjadi ketika ada pembajak yang baik hati, menawarkan layanan serupa? Kasarnya, tampilan senyaman itunes, tapi isinya konten bajakan semua, boleh anda nikmati secara gratis dan mudah. Tidak perlu repot menunggu download usai, tinggal pencet play.

Seperti yang saya tulis sebelum ini, ada layanan pembajak film yang begitu gampang digunakan, namanya Popcorn Time. Layanan Popcorn Time ini luar biasa gampang digunakan, bahkan kayaknya nenek saya yang sempat ngalamin penjajahan jaman jepang pun bisa memakainya. Tinggal klak klik sebentar, film bajakan siap dinikmati.

Tersedia untuk PC, maupun IOS serta Android, Popcorn Times menawarkan film dan serial dengan jumlah katalog yg lumayan besar. Menggunakan teknologi pencari torrent YTS, ia menawarkan streaming untuk file-file torrent berkualitas HD, 720p, hingga 1080p. Semuanya gratis belaka.

Biasanya, layanan gratis semacam ini mengandalkan iklan-iklan web atau malware yang mengganggu. Tapi Popcorn Time tidak. Mereka benar-benar clean dan terlihat profesional tampilannya. Sangat nyaman digunakan.

Saya sering merasa bahwa Popcorn Time adalah versi yang lebih baik daripada Netflix. Gratis lagi bersahaja.

Popcorn Time jelas melanggar hak cipta, dan sudah tentu mereka telah menjadi top list untuk segera di banned atau diperkarakan di pengadilan. Tapi dasar kumpulan hacker gila, dalam sebuah wawancara, salah seorang developer mereka dengan enteng berkata bahwa Popcorn Time ini hanya sebuah ajang eksperimen dan belajar. Mereka tidak akan mencari uang lewat layanan ini. Dan yang terpenting, mereka tidak menyimpan file-file film di server. Hanya mengambil dari source yang banyak beredar...

Popcorn Time boleh berpendapat demikian. Tapi saya rasa, pelaku bisnis tidak akan rela segmen pasarnya di gerogoti pembajak. Mengedarkan barang bajakan, bisa kena tuntut juga kan?

Tapi perlu juga diingat bahwa Popcorn Time ini adalah layanan Open Source. Artinya, dia tidak dikuasai oleh satu dua pihak, tapi semua orang boleh mengembangkannya. Berbasis open source, mereka akan sulit dibungkam. Yang ada, mereka justru akan menjadi semakin canggih.

Mungkin, suatu hari nanti, untuk merespon kemunculan aplikasi-aplikasi keren seperti Popcorn Time ini, para pelaku Industri film akan mencoba terobosan baru dalam mengedarkan filmnya. Beberapa sudah terlihat, film-film baru dirilis secara video on demand. The Interview yang lucu banget itu, dirilis di Youtube dan gak lama kemudian, dirilis juga di Netflix.

Ke depannya, bakal semakin banyak pelaku film yang melakukan strategi serupa.


Di Indonesia belum ada layanan konten video berlangganan yang baik dan benar, maka untuk sementara saya pakai Popcorn Time dulu. Kalau nanti ada yang keren, saya pasti akan memakainya. Syaratnya: dia harus sekeren Popcorn Time tampilannya, dan kualitas video yang disediakan nggak asal-asalan.

Saya juga akan sangat bersyukur apabila nanti film-film Indonesia juga dirilis dengan cara serupa. Internet salah satu fungsinya kan itu, memfasilitasi kemalasan bergerak. Barangkali saya memang lebih suka menonton di rumah daripada pergi ke bioskop...