Skip to main content

Saatnya Spotify, Saatnya Cari Spot Jodoh, Mblo!


Ada jamannya sewaktu internet belum begitu semarak, jejaring pertemanan masih dikuasai Friendster (buat yang alay), dan Myspace (buat yang anak band). Jaman Raditya Dika blog nya masih lucu dan segar, jaman belum ada tumblr, yang ada cuman multiply. Waktu itu, internet belum terlalu mendarah daging, bahkan warnet-warnet harus menaruh folder khusus berisi film-film syur berformat 3gp guna menarik perhatian khalayak.

Di jaman serba ga enak itu, ada sebuah situs yang menggeliat. Situs itu bernama last.fm. Situs dengan premis sederhana, memamerkan playlistmu kepada dunia. Biar orang tahu seberapa keren dan seberapa tinggi selera musikmu. Last.fm sesungguhnya adalah sebuah database musik nan ciamik. Band-band kecil pun bisa muncul disitu, nampang bareng Radiohead, Blur, atau segudang musisi beken lainnya.

Itu kalau buat yang punya band. Kalau buat orang biasa kayak kita-kita? Ya buat cari jodoh, tho!

Dulu ada kegiatan khas anak muda jomblo yang sok keren. Beli iPod shuffle, kemudian diisi dengan lagu-lagu paling hits di jamannya, dari yang shoegaze, post rock sampai twee pop yang ceria. Pokoknya makin aneh lagunya, makin keren. Jangan sampai keliru masukin lagu Agnez Monica, bisa jatuh pasaran nanti.

Setelah itu, putar lagu-lagu tersebut di iPod, non stop. Selama seminggu full. Sesudah itu, segera ke warnet, log in ke last.fm, dan biarkan sihir musik bekerja. Dalam sekejap, kita jadi manusia paling keren sejagat. Mendengarkan lagu-lagu yahud (walaupun tampang ga yahud-yahud amat), membuat kepedean berlipat ganda. Dengan enteng colak-colek lawan jenis (colek-colek dunia maya tentunya), dengan percakapan standar semacam “Hai, keren juga library mu, udah denger ini belum (sebut nama band yang sangat segmented)”.

Oke. Cukup sudah cerita soal masa lalu perilaku bersosial media semi biro jodoh yang menggelikan ini. Sekarang jaman sudah bergerak sangat maju. Sekarang saatnya Spotify, kata orang-orang di twitter.

Yak, setelah ditunggu-tunggu lama, akhirnya Spotify datang juga ke Indonesia. Menyusul Deezer yang lebih dulu eksis. Keduanya jelas bukan karya anak bangsa, tapi siapa juga yang peduli. Yang penting persediaan lagunya banyak, dan biaya langganannya murah! Berita launchingnya Spotify Indonesia kemarin juga memicu beberapa geek luar negeri untuk nekat mendaftar dengan VPN Indonesia, demi mendapat biaya langganan yang murah.

Yang masih menyebalkan paling cuma soal kuota internet kita yang kebanyakan masih mahal dan terbatas. Perubahan teknologi begitu maju, perilaku penyedia konten semakin mengarah kepadastreaming-streaming audio video, tapi jasa operator seluler masih saja kayak asu.

Bagaimana mau Spotify-an kalau kuota internet cuma dua giga.

Operator seluler itu benar-benar tidak mau mengerti penderitaan para jomblo pengaisopportunity. Padahal platform keren seperti Spotify ini kan juga mengizinkan perilaku yang sama seperti jaman last.fm, bisa stalking playlist gebetan, membuka peluang percakapan berbobot nan berbudaya tentang khazanah permusikan yang ajib benar. Tidak peduli berada di sudut Beringharjo ataupun di Pasar Santa, selama musik dengeran kita sama kerennya, barangkali kan kita berjodoh.

Kalau kata Jamie Cullum sih, Playlist, kumpulan lelaguan, mixtape, itu Blueprint of my soul lah. Kesamaan selera musik bisa jadi pengantar nyepik yang baik, yang dapat memicu percakapan-percakapan lain yang jika beruntung, makin akrab dan intim.

Kayak di film Begin Again itu lho, Mark Ruffalo dengerin lagu pakai hape yang earphone nya di splitsama gebetannya. Dua bulan setelahnya, mereka menikah. Sweet sekali bukan. Itulah kisah cinta yang ideal, alias cuma ada di tataran ide belaka 😛

Namun apalah arti segala kesempatan dan peluang itu di tangan para penyedia layanan internet yang tidak peduli. Kasihan benar nasib para jomblo di era digital yang serba streaming ini, mau numpang keren ber-Spotify ria biar kekinian, masak harus numpang cari wifi dulu. Cih, apa bedanya itu dengan para kaum tua kita dulu yang demi mendapat berita mesti berduyun-duyun ke kelurahan buat numpang nonton TV atau sekadar baca koran.

Tapi demi apapun, di jaman apapun, hidup kaum Jomblo memang susah sih. Kecuali jaman Koes Plus barangkali, yang dengan sengaknya bisa bernyanyi Bujangan, “Hati senang walaupun tak punya uang…” 

Popular posts from this blog

Mitos Pencuri Buah

Buah itu rasanya kecut, membuat lidah serasa dicubit, sensasinya mirip seperti kalau kamu menggigit jambu monyet. Bentuknya bulat, seperti tomat kecil, warnanya jingga.

“Cobalah, ini enak kalau dibuat rujak” kata seorang teman pada seorang teman yang lain, anak baru dari jawa.

Digigitnya buah itu, lalu teman baru dari jawa itu memuntahkannya seketika.

“Nggak enak! Sepet!!” katanya. Kami semua tertawa, selalu menyenangkan 'menyiksa' kawan baru dengan buah dari pohon perdu ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya kalau kawan baru ini ditawari makan buah Kecacil, yang rasanya kecut luar biasa.

Bekul, demikian orang Bali menyebut nama buah itu. Pohonnya yang pendek penuh duri, dulu mudah ditemui di sepanjang perjalanan menuju pantai kuta. Tepatnya di perkampungan di sebelah barat jalan legian. Belakangan saya temui, nama latin buah ini ‘Ziziphus mauritiana‘.


“Sebaiknya jangan banyak banyak makan buah bekul, bisa sempengot!” begitu nasehat kami dulu. Teman bar…

Begini cara saya membuat media center secara murah

Saya gemar menonton film. Sebagian besar isi harddisk di laptop saya habis terpakai untuk menyimpan file-file film dan serial TV. Suatu hari saya bosan menonton film di laptop. Saya ingin menonton film dan serial dari layar TV saja. Syukurlah sekarang sudah ada berbagai perangkat yang memungkinkan saya memutar film di laptop tapi munculnya di layar TV.

Perangkat yang saya maksud disini tak lain tak bukan ialah Chromecast. Ia adalah perangkat kecil yang memungkinkan laptop dan gadget berkomunikasi dengan TV. Singkatnya, membuat TV biasa menjadi berasa kayak Smart TV. Syarat utamanya: ada jaringan wifi.

Perangkat mini ini bekerja dengan sangat baik. Buat pemalas kayak saya, alat ini membuat hidup saya tambah bahagia sedikit. Nonton video-video streaming dari gadget, tapi hasil streamingnya tersaji di TV. Iklan-iklan Youtube juga jadi hilang kalau diputarnya via Chromecast. Menyenangkan sekali.

Bagaimana dengan memutar film-film dari laptop? Tentunya banyak pilihannya. Banyak yang grati…