Ada nostalgia yang aneh ketika saya mendengarkan Silampukau. Nostalgia akan suatu kota penting di negara ini, Surabaya.

Suatu ketika, Surabaya pernah terdengar begitu garang. Pelajaran sejarah yang menyebut Bung Tomo memimpin pemoeda Surabaya bertempur habis-habisan.. Atau menyebut Persebaya, misalnya, lengkap dengan Bonek, barisan pendukungnya yang fanatik. Ditambah lagi dengan munculnya musisi-musisi cadas, yang digawangi oleh Log Zhelebour. Belum lagi, menyebut nama lokalisasi Dolly. Surabaya, Kota Pahlawan, kota yang keras.

Jaman bergeser. Media massa makin terpukau oleh Jakarta. Berita-berita dari kota lain semakin jarang terdengar, termasuk dari Surabaya. Ingatan akan Surabaya sebagai kota yang keras dan garang juga perlahan memudar.

Ketika muncul sebuah band ajaib bernama Vox, saya tersentak. Ada band sekeren ini di Surabaya! Memainkan musik folk yang riang gembira, ramai semarak dan asik nian. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Istilahnya, one hit wonder.

Lama berselang, di tahun 2015 yang permai ini, Nostalgia akan Surabaya yang garang kembali menyeruak. Kali ini, yang berhasil melakukannya adalah Silampukau. Duo akustik ini memainkan lagu-lagu ballads tentang Surabaya. Tidak bicara soal yang hebat-hebat, melainkan bicara keseharian yang dekat-dekat.

Musik mereka yang sederhana, didukung dengan lirik yang jujur dan kuat, dengan cepat menancap ke hati. Saya merasa seperti diterbangkan ke Surabaya yang panas.

Musik ballads, akustik, kadang bisa berkumandang lebih keras ketimbang musik cadas berdistorsi. Ditambah lagi dengan penggunaan kosakata yang unik dan cerdas. Kata-kata seperti "Mursal", "Puan Kelana", atau metafora seperti "buah-buah kisut ladang matrimoni", Silampukau adalah band Indonesia dengan lirik yang sangat cerdas.

Ketika bicara soal yang personal pun, Silampukau tetap bisa melakukannya dengan lirik puitis yang menggelitik. Misalnya, saat mereka bercerita tentang kekasihnya yang pergi ke Prancis (barangkali buat studi S2 atau S3, hehehe), mereka tidak curhat atau berlarat-larat:

"Jauh-jauh Puan kembara,
sedang dunia punya luka yang sama...

...

Hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya...
...

Paris pun penuh mara bahaya dan duka nestapa,
seperti Surabaya."

Puitis bukan?

Kita akan menemukan banyak lirik-lirik puitis lainnya di Album Silampukau ini. Lagu-lagu mereka seperti puisi, yang nyata dan bersentuhan langsung dengan Kota dan kehidupannya yang bikin sesak.

Bagi saya pribadi, album Silampukau yang berjudul "Dosa, Kota & Kenangan" ini adalah album yang sangat bagus. Album musik yang berhasil menerbangkan saya kepada ingatan-ingatan samar akan Surabaya. Album musik yang mengembalikan Surabaya sebagai kota yang ganas dan keras, yang anehnya dilakukan dengan syahdu.

Balutan musik dan lirik yang syahdu ini sedikit banyak juga mengingatkan saya pada musisi-musisi besar tanah air seperti Iwan Fals atau Franky Sahilatua.

Akan halnya namanya yang unik, Silampukau, agaknya ini merupakan hasil jerih payah mereka mengulik Bahasa. Silampukau adalah kosakata bahasa melayu lama yang memiliki arti: Burung Kepodang.

Nyanyian Burung Kepodang asal Surabaya ini telah mengisi telinga saya sebulan lamanya, dan nampaknya, saya masih belum mau berhenti mendengarkannya.