Aku tidak mengerti bagaimana seseorang dapat tertidur lelap. Kenapa menghitung domba bisa berakibat sama dengan ayunan pendulum.

***

“Pernah kau alami susah tidur?” Ami bertanya seraya menimang-nimang gelas yang hampir kosong. Lalu meminum isinya hingga tandas. Ditanya begitu, aku diam. Bagiku tidur itu mudah. Berbaring, tutup mata, selesai urusan. Masuki alam mimpi.

“Belakangan ini, aku susah tidur. “ Ia menuang anggur ke gelasnya. Kulihat wajahnya memang kusut. Sebenarnya ia cantik. Tapi ia terlihat berantakan. Make-up tidak banyak banyak membantu. Kantung matanya tebal, tampaknya ia lelah.



“Sedang banyak pikiran kah?” tanyaku

“tidak juga…” Jawabnya singkat.

“Tambah lagi minumannya, pak?” Seorang pelayan datang. Aku mengerling pada Ami, ia menganggukkan kepalanya, dan pelayan itu berlalu.

“Potongan rambutmu terlalu pendek, Ami”

“Sengaja, supaya mereka bisa melihat tengkuk yang indah ini. Kau tahu, si Putra, mantan pacarku dulu, ia suka pada tengkuk ini”

“Juga pada betismu, dadamu, dan tentu saja pada wajahmu, Ami”

“Ia berpaling ke tengkuk lain”

“Hahaha, kau lucu, Ami. Baru kali ini aku mendengar pria jatuh cinta pada tengkuk wanita”

“Ya, pada tengkuk wanita, ada keharuman yang tidak tercium. Hidung tidak bisa menangkapnya. Keharuman yang hanya tercium oleh Hati”

“Lehermu jenjang, Ami. Tengkukmu memang indah, bisa jadi benar, Putra memang jatuh cinta pada tengkukmu itu. Juga pada wajahmu, dan mungkin juga pada ubun-ubun mu. hahaha”

“Ah, sudahlah, tidak usah bahas tentang dia. Aku sudah punya kamu sekarang”

“Aku bukan milikmu Ami, kau tahu itu”

“Kadang, aku merasa lebih nyaman bila bersama wanita daripada bersama pria”

Ami menunduk, menimang gelasnya yang kosong. Wajahnya berseri-seri ketika pelayan datang membawakan satu botol minuman. Sisa petang itu kami habiskan dengan lebih banyak diam. Sekitar jam 9 malam, botol minuman terakhir telah tandas. Kami berpisah setelah berjanji untuk bertemu lagi besok malam.

————————————————————–

Rumah kos itu dihuni limabelas orang, semuanya wanita. Suasana rumah kos yang dingin, tidak ramah. Satu sama lain jarang bertegur sapa. Pulang ke tempat kos hanya untuk merebahkan badan, tidur, setelah lelah bekerja. Selain memang tidak ada ruang berkumpul disitu.

Pukul Sepuluh malam, Ami, di dalam kamarnya, berbaring, mencoba untuk lelap. Gelisah memandangi langit-langit kamar. Kamarnya sempit dan pengap. Gelisah karena kantuk tak kunjung datang. Tidak tahan, ia nyalakan radio. Bosan, ia nyalakan TV. Sambil sesekali memainkan ponsel nya.

Pukul dua dinihari, sebuah ide terbersit dibenaknya.

Ami keluar dari kamarnya, berjalan berjingkat. Melewati lorong rumah kos itu, mencoba mendengar dengkur tetangga-tetangga kamarnya. Mereka semua sudah terlelap. Pikir Ami. Ia telah sampai di kamar yang paling ujung. Ia coba buka, pintunya terkunci.

Lalu ia beralih ke kamar berikutnya. Mencoba buka pintunya. Tidak terkunci. Pemilik kamar tidur terlentang. Pelan-pelan ia dekati wanita yang sedang tidur itu. Mengangkat kepala wanita itu dengan sebelah tangannya, dengan sangat hati-hati. Sebelah tangannya lagi, sangat perlahan, Ami gunakan untuk mengambil bantal wanita itu.

Berhasil! Hati-hati ia baringkan kembali kepala wanita itu kekasur. Berjingkat keluar kamar, menutup pintu sepelan mungkin. Kembali ke kamarnya. Ami mengulangi dengan cara yang sama hingga terkumpul lima bantal di kamarnya. Cuma lima kamar yang tidak terkunci.

Kemudian mencoba membaringkan kepalanya pada bantal-bantal itu satu persatu.

Bantal pertama, lima menit. Tidak membantu. Berganti ke Bantal kedua. Lima menit. Sama. Pada Bantal yang ketiga, ia merasa nyaman, lima menit kemudian, Ami terlelap. Ada keharuman yang membius pada bantal itu. Keharuman yang hanya tercium oleh Hati.