Skip to main content

Resital Mini



Kamar itu tidak terlalu besar. Lima orang duduk berjejal pada sebuah kasur tanpa dipan. Didepan mereka, seorang pria tua duduk di kursi, memangku gitar kayu. Mengelap gitar itu dengan sekedarnya. Gitar kayu itu terlihat sama seperti yang memangku. Terlihat Tua. Terlihat dari warnanya yang mulai pudar, dan kulit kayunya banyak yang terkelupas.

Di kamar itu, tersaji sebuah resital. Terhitung setahun sudah, acara ini rutin digelar, seminggu sekali. Ditempat yang sama, dengan pemain gitar yang sama, dengan lima penonton yang itu-itu saja. Mereka yang lima itu mengaku sebagai penikmat jazz dan blues sejati. Sedangkan dia yang memainkan gitar, tidak pernah mengaku sebagai gitaris jazz ataupun blues. Tapi mereka yang berlima itu sepakat, permainan gitar pria tua ini disebut blues. Tentang hal ini, pria tua itu tidak terlalu peduli.


Tidak lama lagi, resital akan segera dimulai. Bila sudah begitu, lima penonton yang setia akan segera menghentikan semua perdebatan. Perhatian tertuju sepenuhnya pada pria tua. Tanpa sorot lampu, tanpa tata suara. Yang ada hanya bunyi petik gitar bergaung terpantul dinding kamar.

Pada senar-senar usang yang berkarat, ia tumpahkan semua. Merangkai nada-nada yang mengisyaratkan sedih. Tidak bernyanyi, karena ia tahu suaranya sumbang. Dengan petikan jemari pada senar-senar usang, ia bicara tentang banyak hal. Utamanya tentang rasa, yang tidak mampu terucap oleh kata.

Melodi yang ia bangun, adalah susunan nada yang dimainkan selayaknya sebuah kord. Nada rendah dan tinggi berjarak satu oktaf dibunyikan bersamaan. Dengan cara itu, bunyi gitarnya menjadi begitu ekspresif.

“Jempolmu tidak ada kukunya?” Tanya salah satu dari lima penonton itu kepada pria tua tersebut.

“Sengaja kucabut” jawab Pria tua. “Dulu, mendiang istriku protes, katanya petikan gitarku terlalu keras, sekarang dengan jempol tanpa kuku ini, petikannya jadi terdengar lebih lembut kan?”

“Petikan gitarmu memang lembut. Tapi, bukannya itu sakit, mencabut kuku dari jempol?”

“Sakit tentu, apalagi, ini kucabut dengan tang. Tapi aku suka hasilnya” Pria tua terkekeh sambil mengamati jempolnya yang tidak berkuku.

Kelima penonton setia berdecak kagum. Baru kali ini mereka melihat seseorang begitu mencintai bunyi gitar, hingga rela mencelekakan diri. Mencabut kuku jempol dengan sebuah tang. Tentu sakitnya luar biasa. Dilakukan demi mendapat suara petikan gitar yang lembut. Kelima orang itu tidak mengerti.

Ditangan pria tua itu, bahkan petikan gitar membunyikan tujuh nada dasarpun terdengar mempesona. Ia membunyikan gitarnya sepenuh hati. Jari-jarinya terlatih untuk mengerti apa yang disuarakan oleh hati. Ia telah mendalami misteri bunyi. Ia mengetahui rahasia bunyi.

Lima belas lagu usai dimainkan. Pria tua memasukkan gitar ke sarungnya. Pertunjukkan hari ini usai sudah.

“Terima kasih atas pertunjukkan yang luar biasa ini.” ucap lima penonton itu.

“Ya, sama-sama. Sampai jumpa Minggu depan.” kata pria tua itu.

Popular posts from this blog

Saatnya Spotify, Saatnya Cari Spot Jodoh, Mblo!

Ada jamannya sewaktu internet belum begitu semarak, jejaring pertemanan masih dikuasai Friendster (buat yang alay), dan Myspace (buat yang anak band). Jaman Raditya Dika blog nya masih lucu dan segar, jaman belum ada tumblr, yang ada cuman multiply. Waktu itu, internet belum terlalu mendarah daging, bahkan warnet-warnet harus menaruh folder khusus berisi film-film syur berformat 3gp guna menarik perhatian khalayak.
Di jaman serba ga enak itu, ada sebuah situs yang menggeliat. Situs itu bernama last.fm. Situs dengan premis sederhana, memamerkan playlistmu kepada dunia. Biar orang tahu seberapa keren dan seberapa tinggi selera musikmu. Last.fm sesungguhnya adalah sebuah database musik nan ciamik. Band-band kecil pun bisa muncul disitu, nampang bareng Radiohead, Blur, atau segudang musisi beken lainnya.
Itu kalau buat yang punya band. Kalau buat orang biasa kayak kita-kita? Ya buat cari jodoh, tho!
Dulu ada kegiatan khas anak muda jomblo yang sok keren. Beli iPod shuffle, kemudian diisi den…

Mitos Pencuri Buah

Buah itu rasanya kecut, membuat lidah serasa dicubit, sensasinya mirip seperti kalau kamu menggigit jambu monyet. Bentuknya bulat, seperti tomat kecil, warnanya jingga.

“Cobalah, ini enak kalau dibuat rujak” kata seorang teman pada seorang teman yang lain, anak baru dari jawa.

Digigitnya buah itu, lalu teman baru dari jawa itu memuntahkannya seketika.

“Nggak enak! Sepet!!” katanya. Kami semua tertawa, selalu menyenangkan 'menyiksa' kawan baru dengan buah dari pohon perdu ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya kalau kawan baru ini ditawari makan buah Kecacil, yang rasanya kecut luar biasa.

Bekul, demikian orang Bali menyebut nama buah itu. Pohonnya yang pendek penuh duri, dulu mudah ditemui di sepanjang perjalanan menuju pantai kuta. Tepatnya di perkampungan di sebelah barat jalan legian. Belakangan saya temui, nama latin buah ini ‘Ziziphus mauritiana‘.


“Sebaiknya jangan banyak banyak makan buah bekul, bisa sempengot!” begitu nasehat kami dulu. Teman bar…

Begini cara saya membuat media center secara murah

Saya gemar menonton film. Sebagian besar isi harddisk di laptop saya habis terpakai untuk menyimpan file-file film dan serial TV. Suatu hari saya bosan menonton film di laptop. Saya ingin menonton film dan serial dari layar TV saja. Syukurlah sekarang sudah ada berbagai perangkat yang memungkinkan saya memutar film di laptop tapi munculnya di layar TV.

Perangkat yang saya maksud disini tak lain tak bukan ialah Chromecast. Ia adalah perangkat kecil yang memungkinkan laptop dan gadget berkomunikasi dengan TV. Singkatnya, membuat TV biasa menjadi berasa kayak Smart TV. Syarat utamanya: ada jaringan wifi.

Perangkat mini ini bekerja dengan sangat baik. Buat pemalas kayak saya, alat ini membuat hidup saya tambah bahagia sedikit. Nonton video-video streaming dari gadget, tapi hasil streamingnya tersaji di TV. Iklan-iklan Youtube juga jadi hilang kalau diputarnya via Chromecast. Menyenangkan sekali.

Bagaimana dengan memutar film-film dari laptop? Tentunya banyak pilihannya. Banyak yang grati…