Setelah sekian jam menunggu, joran ditangan Larso bergerak-gerak. “Aha! Ikan!” Teriaknya. Sekejap ia menarik joran itu kuat. Tapi ikan itu melawan.

Bila ia tarik joran kekiri, ikan itu bergerak kekanan. Begitupun sebaliknya. Tapi demi menu makan siang ini, Larso pantang menyerah. Ditariknya ikan itu kekanan kekiri. Berharap ikan itu lelah, lalu menyerah.
Ikan itu tidak kunjung menyerah. Pasti besar lah ikan itu. Larso bisa merasakan gerakannya didalam air. Kuat dan bertenaga. Mungkin ikan gabus, mungkin juga mujaer. Tapi tidak mungkin ikan sepat. Tidak, sepat tidak sekuat itu. Sepat itu lincah, tapi tidak bertenaga.
Ia harap itu ikan gabus, sebab ia menyukai tekstur daging ikan gabus yang lembut. Terbayang seonggok ikan bakar yang berminyak. Larso tidak sabar lagi. Dengan satu hentakan keras, Larso mengangkat jorannya. Tapi hentakannya terlalu kuat, tali pancingnya putus.


“Sial!” Umpatnya, persediaan tali pancingnya telah habis. “Bila tali pancing tidak kuat, mau tidak mau, aku harus menangkapnya dengan tangan. Ikan besar, pasti gerakannya lamban, ” Pikir Larso. Sedetik kemudian ia meloncat kesungai.

Saat meloncat, Larso lupa pada dua hal. Pertama, sungai itu dalam. Kedua, Ia tidak mahir berenang. saat itu, ia ingat pada hal yang lebih penting, yaitu perutnya yang lapar. Juga pada ikan gabus, pada tekstur dagingnya yang empuk, pada aromanya ketika dibakar, pada cita rasanya yang membuai lidah…