Sebagian besar pecinta tulisan-tulisan fiksi tentu telah mengenal siapa Gabriel Garcia Marquez. Yang belum kenal, silahkan melancong dulu ke wikipedia.

Ada satu novel karya Garcia Marquez yang membuat sempat membuat saya merasa tertipu. Gabriel Garcia Marquez agaknya seorang penipu yang teramat handal. Parahnya, saya suka ditipu oleh Marquez.

Ceritanya begini.

Saya baru selesai membaca novel beliau yang berjudul ‘Chronicle of a Death Foretold’. Dari judulnya, saya sudah berharap bahwa novel ini adalah sebuah ‘Chronicle’, bayangan saya, novel ini berisi cerita yang tersusun secara kronologis. Bayangan saya meleset. Saya tertipu oleh judul. Ternyata novel ini berisi serangkaian kejadian, yang tidak kronologis, seputar terbunuhnya seorang pemuda bernama Santiago Nasar.

Bahkan sejak baris pertama novel, Gabriel Garcia Marquez sudah memberitahu bahwa Santiago Nasar akan mati, terbunuh pada suatu pagi ketika bishop datang berkunjung, sesaat setelah pesta perkawinan Angela Vicario dan Bayardo San Roman. Santiago Nasar dibunuh oleh Pablo dan Pedro Vicario, si kembar saudara Angela Vicario.

Angela Vicario rupanya sudah tidak perawan ketika menikah dengan Bayardo San Roman. Akibatnya, pada malam pertama Bayardo mengembalikan Angela ke rumahnya. Ibunya yang merasa malu, memukuli Angela. Lalu Si kembar Pablo dan Pedro menanyai Angela, siapakah gerangan laki-laki brengsek yang merenggut kegadisannya. Pada bagian ini, Marquez sangat piawai menggambarkan kegamangan Angela, hingga akhirnya, diujung kegamangan itu, ia menyebut sebuah nama: Santiago Nasar. Maka dimulailah peristiwa itu, si kembar Vicario membunuh Santiago Nasar dengan pisau.

Alur ceritanya demikian, tapi seperti yang saya katakan tadi, Gabriel Garcia Marquez adalah tukang cerita yang teramat handal. ‘Chronicle of a Death Foretold’ ditulis dengan tidak linear, sehingga sulit untuk menebak jalan ceritanya.

Pembunuhan Santiago Nasar ini sampai cerita berakhir pun masih menyisakan misteri. Narator tidak memberi sedikitpun petunjuk tentang mana fakta yang benar. Sejumlah pertanyaan penting misalnya Benarkah Santiago Nasar yang merenggut keperewanan Angela Vicario tidak dimuat banyak di novel ini. Angela Vicario hingga beberapa puluh tahun kemudian masih dengan tegas menjawab iya. Tapi Sang narator kisah ini punya argumentasi yang kuat bahwa Santiago Nasar sebenarnya tidak bersalah. Demikian pula dengan si korban pembunuhan, beberapa saat sebelum kematiannya, ia sangat bingung mengapa Vicario bersaudara ingin membunuhnya.

Tetapi bukannya menjelaskan tentang Santiago Nasar memang layak dibunuh atau tidak, Marquez malah menghabiskan beberapa halaman untuk menceritakan kisah cinta Santiago Nasar dengan Maria Alejandrina Cervantes, seorang pelacur cantik dan terkenal. Juga, Marquez malah banyak bercerita tentang cuaca pada hari Santiago Nasar terbunuh. Juga, tentang mimpi-mimpi Santiago Nasar menjelang kematiannya.

Bila anda membaca ‘Chronicle of a Death Foretold’ ini, mungkin akan menemui seperti apa yang saya alami. Banyak pertanyaan penting yang tak terjawab. Padahal, gaya yang dipakai dalam novel ini adalah gaya Jurnalistik. Apalagi, novel ini berangkat dari sebuah kisah nyata.

Kalau sehabis membaca novel ini anda mengalami kebingungan sama seperti saya, berarti, selamat! Kita telah sama-sama ditipu oleh Marquez. Tapi karena Gabriel Marquez adalah penipu yang elegan, maka, segala teknik menipu dan cara bercerita yang ciamik (saya suka cara Marques mendeskripsikan sesuatu), rasanya menjadi sia-sia belaka kalau tidak ada sesuatu di balik jalinan cerita yang canggih itu. Dan benar saja, ketika membaca ulang novel ini, saya menemukan banyak kritik yang dilontarkan Marquez terhadap kultur Kolombia, negara asalnya. Juga kritik terhadap pada pemegang Otoritas yang ia nilai sebagai pihak yang lalai terhadap keselamatan jiwa rakyat yang terancam. Juga, dalam novel ini, saya menemukan tentang bagaimana Marquez memandang cinta. Agaknya, kutipan puisi yang dipakai oleh Marquez untuk membuka novel ini  (the pursuit of love is like falconry - GIL VICENTE), merupakan inti kisah yang rumit dan misterius ini.

Kisah pembunuhan Santiago Nasar menjadi kendaraan Marquez untuk bicara tentang banyak hal. Tapi karena ia jago bercerita, kisah tragis ini tidak berbau ceramah sama sekali. Pembaca mana pula yang suka diceramahi?