Hampir tiap pagi aku selalu sarapan dengan telur dadar. Bosan, iya. Tapi untuk memasak masakan lain, aku tak punya waktu. Telur dadar adalah serumit-rumitnya masakan yang bisa kubikin.

Kapan pertama kali aku sarapan dengan telur dadar?

Sejak mulai bekerja di Jakarta. Eh, tidak..tidak.. Sejak kuliah di pelosok Jawa Tengah. Ummm, tidak juga, sejak SMA, atau malah sejak SD. Ya, ya, aku ingat ibu sering membuatkan menu itu untuk sarapan sekeluarga. Tiga butir telur didadar, lalu dipotong-potong untuk sarapan lima orang, yakni Bapak, aku dan kedua kakakku, serta Ibu sendiri. Tapi bukan berarti sejak SD aku selalu sarapan pakai telur dadar. Bisa menderita bisul menahun nanti. Tidak seekstrim itu lah.

Telur dadar buatan ibu itu yang paling enak menurutku. Ada rasa yang khas dalam setiap gigitannya. Campuran yang pas antara bawang, daun bawang, garam, dan segenap proses memasak yang membutuhkan kelihaian khusus, itu tak bisa kusaingi. Bagaimana dengan buatanku? Ah, tak bisa kau katakan tidak enak juga. Tapi, dibanding bikinan ibu, jelas kalah kelas!

Suatu kali waktu aku baru mulai bekerja di Jakarta, ibu menelpon.

"Berangkat ke kantor jam berapa? Jangan lupa sarapan! Kau sarapan pakai apa?"

"Telur dadar!" Jawabku.

Lalu aku tanyakan perihal resep rahasia membuat telur dadar yang enak itu. Karena buatan ibu, lebih enak daripada yang di jual di warung-warung makan dan restoran-restoran yang bertebaran di Jakarta. Aku percaya, masakan adalah sesuatu yang dapat dipelajari. Komposisi bumbu dan perlakuan-perlakuan tertentu dalam mengolah, itu bisa diteorikan, bisa dibukukan.

Ibu terkekeh sebentar, lalu menjawab malu-malu.

"Rahasianya adalah, goreng pakai minyak bekas! Jangan pakai minyak goreng yang baru. Minyak bekas, alias jelantah, itu saja rahasianya. Yang lain, silahkan kau modifikasi sendiri"

Jawaban itu, terus terang membuat aku kecewa. Tadinya aku berharap Ibu bisa romantis sedikit, lalu menjawab bahwa resep rahasianya adalah pada rasa cinta dan kasih sayangnya pada keluarga, pada anak-anaknya. Dimana rasa cinta itu menjalar dari tangannya melalui masakan yang kami santap lalu masuk ke hati. Tapi, jelantah?!

Aku menyerah, lalu mengambil kesimpulan: Mungkin bila sejak kecil, tiap pagi lidah kita dijejali menu yang sama, menu itu akan dinobatkan sebagai favorit, sebagai yang paling enak. Ini soal rasa yang tidak sederhana. Dengan rentang waktu yang lama, selain apa yang terkecap lidah, ia juga membawa sejumput kenangan, baik dalam pikiran maupun dalam hati.

Telur dadar yang paling enak itu merupakan riwayat yang panjang.