Di beberapa ruas jalan di Jakarta, kadang-kadang saya masih menemukan telepon umum. Sering juga saya melihat ada saja orang yang masih menggunakannya. Berapa biayanya sekarang, masihkah seratus rupiah, atau limaratus rupiah? Berapa lama durasinya, lima menit, tiga menit?


Sejak dulu, saya memang bukan pengguna telepon umum. Sejak masih pakai koin, lalu sedikit canggih dengan kartu, saya tidak pernah memakainya. Satu-satunya kegunaan telepon umum bagi saya adalah sebagai donatur dingdong. Dengan cara menggedor-gedor tombolnya dengan batu, berharap koin-koin didalamnya berhamburan keluar. Kadang-kadang berhasil, tapi gagalnya lebih sering.

Apalagi sekarang, jaman ponsel begini. Telepon umum jadi makin terbengkalai. Kalau tidak salah ingat, Clark Kent sering mengganti kostum menjadi Superman di kotak telepon umum. Syukurlah, telepon umum ternyata punya kegunaan lain, punya kontribusi dalam menyelamatkan umat manusia. Sayangnya, Superman hanyalah fiksi Amerika belaka.

Ngomong-ngomong soal kotak telepon umum, saya suka kotak telepon Inggris yang begitu ikonik, dengan warna merahnya yang mencolok. Kotak telepon umum itu sering terlihat, misalnya dalam desain-desain poster britpop, ataupun dalam film seperti serial Mr. Bean. Ikonik sekali.

Dari ensiklopedi sejuta umat, wikipedia, saya dapati bahwa kotak telepon ini didesain oleh seorang arsitek bernama Giles Gilbert Scott. Warna merah dipilih semata-mata agar mencolok, sehingga mudah ditemukan. Sayangnya kotak telepon umum di Inggris itu, seberapapun unik dan cantik desainnya, tetap saja terbengkalai.

Tapi orang Inggris, mereka bisa saja menyiasatinya.

Adalah di Somerset village, sebuah desa berpenduduk 800 jiwa, Kotak telepon umum yang sudah terancam berpredikat "tak berguna" itu, disulap jadi perpustakaan kecil, memuat sekitar 100 buku, CD dan DVD. Upaya ini merupakan inisiatif masyarakat. Alasannya ada dua: (1) Perpustakaan keliling tidak lagi mengunjungi Somerset, dan (2) mereka tidak mau kehilangan kotak telepon khas Inggris tersebut.

Perpustakaan kotak telepon itu buka 24 jam per hari, 365 hari per tahun. Aturan mainnya begini: ambil satu buku di telepon umum, taruh satu buku lain sebagai gantinya. Jika ada buku yang tidak kunjung diambil orang, buku tersebut akan disumbangkan ke badan amal.

Salut! Idenya keren sekali.

Rujukan

Ringing the changes: phone box becomes mini-library

Phone box has new life as library