Skip to main content

Antara Ted Mosby dan Florentino Ariza



Tak lama setelah serial TV “How I Met Your Mother” nan fenomenal itu menayangkan episode terakhirnya yang menawarkan twist mengecewakan, hari ini, 18 April 2014, dunia sastra kehilangan salah satu penulis terbaiknya. Ya, hari ini dunia sastra tengah berduka lantaran Gabriel Marquez, seorang maestro penulis fiksi kelahiran kolombia, meninggal dunia.

Apa kaitannya penulis sastra sekaliber Gabriel Marquez dan serial TV populer How I Met Your Mother??

Begini, Ted Mosby, karakter utama dalam ‘How I Met Your Mother’, adalah bujangan yang idealis dan terkesan Snob. ia benci acara-acara Olahraga di Televisi, namun sebaliknya, Ia memuja ilmu, arsitektur, filosofi, dan kebudayaan. Ted Mosby bahkan sanggup mendeklamasikan Puisi-puisi Pablo Neruda dalam bahasa aslinya! Snob sekali bukan?

Makanya Ted Mosby kadang dijuluki ‘Douchebag’ sama teman-temannya.

Saking idealis dan douchebagnya si Ted Mosby ini hingga ia mempunyai syarat bahwa calon istrinya kelak haruslah wanita yang menggemari buku ‘Love in The Time of Cholera’. Karakter Ted Mosby sang pemuja ‘Cinta Sejati’ ini sebenarnya memang mirip dengan Florentino Ariza, karakter utama dalam ‘Love in The Time of Cholera’ karangan Gabriel Marquez.

Florentino Ariza, seorang bujang lapuk yang setia menunggu lima puluh tahun lamanya untuk mengungkapkan cinta kepada Fermina Daza, wanita cantik yang ia pacari waktu remaja.

Di hari suami Fermina Daza meninggal, Florentino Ariza buru-buru lari ke rumah Fermina, bukan untuk melayat atau berbela sungkawa, melainkan mengungkapkan cintanya lewat kalimatnya yang legendaris:

“Fermina,” katanya, “Aku telah menantikan kesempatan ini selama lebih dari setengah abad, untuk mengulangi padamu sekali lagi sumpahku akan kesetiaan yang sempurna dan cinta yang abadi”

Menunggu lima puluh tahun, lalu mengungkapkan cinta di hari suami mantan pacarnya itu meninggal, Florentino Ariza memang sinting! Tapi lebih sinting lagi penulisnya. Kok ya kepikiran bikin karakter semacam itu! Gabriel Garcia Marquez, sang penulis, untuk kesintingannya dalam menullis fiksi, pernah diganjar hadiah Nobel Sastra. Dan kesintingan Love in the time of Cholera ini layernya bertumpuk-tumpuk. Karakter-karakternya memiliki berbagai versi cinta yang diterjemahkan dengan sangat juara melalui perilaku-perilakunya. Setelah selesai membaca buku ini, anda juga akan paham bahwa judul buku ini sangat tepat menggambarkan isi buku.

Buku ‘Love in The Time of Cholera’ ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Anda tidak perlu takut dicap sebagai Douchebag atau Snob kalau membaca buku ini. Anda tidak akan mendeklamasikan quote-quote Florentino Ariza dalam bahasa Spanyol kan?

Popular posts from this blog

Saatnya Spotify, Saatnya Cari Spot Jodoh, Mblo!

Ada jamannya sewaktu internet belum begitu semarak, jejaring pertemanan masih dikuasai Friendster (buat yang alay), dan Myspace (buat yang anak band). Jaman Raditya Dika blog nya masih lucu dan segar, jaman belum ada tumblr, yang ada cuman multiply. Waktu itu, internet belum terlalu mendarah daging, bahkan warnet-warnet harus menaruh folder khusus berisi film-film syur berformat 3gp guna menarik perhatian khalayak.
Di jaman serba ga enak itu, ada sebuah situs yang menggeliat. Situs itu bernama last.fm. Situs dengan premis sederhana, memamerkan playlistmu kepada dunia. Biar orang tahu seberapa keren dan seberapa tinggi selera musikmu. Last.fm sesungguhnya adalah sebuah database musik nan ciamik. Band-band kecil pun bisa muncul disitu, nampang bareng Radiohead, Blur, atau segudang musisi beken lainnya.
Itu kalau buat yang punya band. Kalau buat orang biasa kayak kita-kita? Ya buat cari jodoh, tho!
Dulu ada kegiatan khas anak muda jomblo yang sok keren. Beli iPod shuffle, kemudian diisi den…

Mitos Pencuri Buah

Buah itu rasanya kecut, membuat lidah serasa dicubit, sensasinya mirip seperti kalau kamu menggigit jambu monyet. Bentuknya bulat, seperti tomat kecil, warnanya jingga.

“Cobalah, ini enak kalau dibuat rujak” kata seorang teman pada seorang teman yang lain, anak baru dari jawa.

Digigitnya buah itu, lalu teman baru dari jawa itu memuntahkannya seketika.

“Nggak enak! Sepet!!” katanya. Kami semua tertawa, selalu menyenangkan 'menyiksa' kawan baru dengan buah dari pohon perdu ini. Kami tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya kalau kawan baru ini ditawari makan buah Kecacil, yang rasanya kecut luar biasa.

Bekul, demikian orang Bali menyebut nama buah itu. Pohonnya yang pendek penuh duri, dulu mudah ditemui di sepanjang perjalanan menuju pantai kuta. Tepatnya di perkampungan di sebelah barat jalan legian. Belakangan saya temui, nama latin buah ini ‘Ziziphus mauritiana‘.


“Sebaiknya jangan banyak banyak makan buah bekul, bisa sempengot!” begitu nasehat kami dulu. Teman bar…

Begini cara saya membuat media center secara murah

Saya gemar menonton film. Sebagian besar isi harddisk di laptop saya habis terpakai untuk menyimpan file-file film dan serial TV. Suatu hari saya bosan menonton film di laptop. Saya ingin menonton film dan serial dari layar TV saja. Syukurlah sekarang sudah ada berbagai perangkat yang memungkinkan saya memutar film di laptop tapi munculnya di layar TV.

Perangkat yang saya maksud disini tak lain tak bukan ialah Chromecast. Ia adalah perangkat kecil yang memungkinkan laptop dan gadget berkomunikasi dengan TV. Singkatnya, membuat TV biasa menjadi berasa kayak Smart TV. Syarat utamanya: ada jaringan wifi.

Perangkat mini ini bekerja dengan sangat baik. Buat pemalas kayak saya, alat ini membuat hidup saya tambah bahagia sedikit. Nonton video-video streaming dari gadget, tapi hasil streamingnya tersaji di TV. Iklan-iklan Youtube juga jadi hilang kalau diputarnya via Chromecast. Menyenangkan sekali.

Bagaimana dengan memutar film-film dari laptop? Tentunya banyak pilihannya. Banyak yang grati…