Demi toutatis, ini sungguh jarang terjadi, film tentang pahlawan Galia kecil nan pemberani itu dibuat dengan begitu disiplin mengikuti plot yang terdapat di komiknya. Asterix: The Land of the Gods adalah film asterix yang paling memuaskan. 

Dua kali kita pernah kecewa lantaran Gerard Depardieu agaknya masih kurang lihai juga aksinya dalam berburu celeng lalu mengganyangnya dengan saus urus-urus. Maka ketika upaya adaptasi komik ini dikerahkan ke dalam bentuk animasi 3D, para pemuja nostalgia mulai harap-harap cemas. Di negaranya sendiri, Galia-Galia kesayangan kita ini nampaknya juga telah begitu dinanti-nanti aksinya. Sejak dibuka, pendapatan film ini berhasil melampaui perolehan film-film animasi lain seperti Frozen, Monsters, Inc. dan Cars.

Seperti cerita di komiknya, Asterix: The Land of the Gods menyajikan lelucon-lelucon yang halus, sinis tapi mengena. Dialog-dialognya penting dan kocak. Dari budak-budak blo'on yang dikadali melulu oleh Romawi, sampai ke Rakyat Roma yang mengaku anti kekerasan tapi nonton Gladiator jua, semangat kelucuan yang dibangun dalam film ini terasa menyegarkan, seolah-olah kita baru saja membaca komik tersebut kemarin sore.

Pengalaman membaca Asterix adalah pengalaman yang membahagiakan, pun demikian dengan menonton film ini. Dan demi menyaksikan goresan tangan Uderzo tampil dalam sosok tiga dimensi, mari menjura dan angkat gelas untuk pembuat film ini. Semua yang tampak di layar begitu menyenangkan. Perkelahian pagi antara Tukang Ikan versus Pandai Besi versus segenap lelaki penduduk desa Galia menjadi lebih hidup dan hingar bingar. Prajurit Romawi berterbangan dihajar Galia sehabis minum jamu daun benalu juga masih lucu belaka.

Akan halnya banyak pula penonton terutama anak-anak kecil yang menonton film ini, tanpa mengenali siapa itu Panoramix, tiada memahami betapa Assurancetourix adalah penyanyi terburuk di 
dunia, barangkali mereka akan bertanya-tanya sepanjang film: kenapa galia-galia ini selalu berkelahi? 

Sebelum menonton, sewajibnya mereka memang harus diberitahu dulu, sebab kita tahu jawabannya: orang Galia memang gila.